cialis vs viagra cost when does viagra patent expire viagra free trial how much does generic viagra cost

Adikku Seorang Tuna Grahita

Usia kami terpaut empat setengah tahun. Adul, begitulah ia memanggil dirinya. Keluargaku bukanlah keluarga berpunya. Papa hanya petani biasa yang mencari nafkah dengan bekerja kepada orang lain. Mama hanya seorang ibu rumah tangga. Sedangkan diriku tinggal bersama kakek dan nenek. Papa tidak cukup mampu membiayai kebutuhan hidupku, apalagi mengingat aku juga menderita asma sejak kecil yang memaksaku harus mengkonsumsi obat-obatan tiap saat.

Saat usianya menginjak lima tahun, seperti halnya diriku. Adul di masukkan ke sebuah TK Islam yang tidak begitu jauh dari rumah nenek. Seperti aku dan anak-anak lain seusianya, secara fisik Adul tidak ada masalah. Dia tumbuh layaknya anak normal. Bahkan tidak satupun dari keluarga yang menganggap dirinya berbeda. Hanya saja, Ustadzah selalu mengeluhkan kelemahan Adul dalam menjalani proses pembelajaran kepada Mama hanya menanggapi itu sebuah kewajaran. Adul baru berusia lima tahun. Masih sangat dini untuk memvonis dirinya secara berlebihan.

Aku mulai merasa adikku ‘sedikit berbeda’. Waktu itu aku tengah melepas lelah sepulang sekolah di sofa ruang tengah. Baru saja berpikir untuk tidur, tiba-tiba Adul mengangetkanku. Spontan aku langsung marah dan mendorong tubuhnya hingga terlempar ke sudut ruang. Dia tak membalas. Wajahnya pucat pasi. Matanya nanar memandangku seakan dengan tatapan kosong. Marah yang meledak seketika memudar. Ada kesedihan bergelayut memenuhi ruang perasaanku. Dia masih menatapku nanar saat aku mencoba menghampirinya.

“Kenapa Uni marah?”. Hanya itu kalimat yang ia ucapkan.

Ada air yang mendesak keluar dari mataku. Kupeluk ia dan kurengkuh sejadi-jadinya. Ada sesuatu berbeda yang kurasakan tapi aku tak cukup mengerti dengan hal itu dan tak tahu harus bertanya kepada siapa.

Saat itu aku hanya mampu berkesimpulan, adikku adalah seorang perasa yang tak bisa dibentak apalagi dimarahi. Sebagai kakak, aku akan selalu berusaha menjaga dirinya dari segala kemungkinan yang akan membuatnya bersedih hati.

Hari berganti minggu yang beranjak menjadi bulan hingga tahunpun menghampiri, meninggalkan jejak-jejak kenangan. Memasuki usia sekolah dasar, Adul terpaksa tinggal kelas selama dua tahun berturut-turut. Wali kelas mengeluhkan kelemahan berpikirnya. Di rumah dia juga kerap dibanding-bandingkan dengan diriku. Aku tahu, meski baru berusia delapan tahun ketika itu, Adul sudah cukup mengerti bahwa tak seorangpun yang memahami dirinya. Aku bisa membaca dan merasakan itu. Kucoba untuk membantunya semampuku, hingga ia bergumam lirih, “Aku gak ngerti, Ni”.

Akhirnya dengan berat hati, Mama mencoba menjalankan saran yang diberikan salah seorang tetangga untuk memasukkan Adul ke sekolah ‘luar biasa’.

“Coba saja masukkan dia ke sana. Siapa tahu akan ada perubahan”.

Sejak saat itu aku mulai jarang bertemu Adul. Jika bertemu kita sudah jarang menghabiskan waktu bersama. Paling hanya sesekali, itupun juga tidak berjalan lama. Memang benar, di sana Adul mendapatkan perhatian lebih. Saat kenaikan kelas ia mampu menjalani semua dengan baik.

Aku mulai mengerti dan memahami kelemahannya.

Waktu terus beranjak. Aku bukan lagi seorang pelajar. Aku seorang mahasiswa. Psikologi adalah bidang ilmu yang ku’kunyah’ setiap waktu. Berbagai hal dan keadaan yang selama ini kuanggap tabu kini perlahan menjadi sangat terang seiring dengan bertambahnya penguasaanku akan bidang ilmu yang kugeluti.

Termasuk mengetahui lebih mendetail tentang kondisi yang dialami oleh Adul, adikku. Adul masih berada di kelas 5 SDLB bagi penyandang Tuna Grahita. Semua orang mengetahui kesulitan dan kelemahannya dalam berpikir. Namun, Tuhan telah menciptakan sekecil-kecil kelebihan di dalam diri setiap manusia di samping kekurangan-kekurangannya.

Pencerahan mulai terjadi.

Meskipun lemah dalam bidang akademik dan memiliki tingkatan IQ di bawah rata-rata, Tuhan memberinya kelebihan pada bidang olahraga. Tidak tanggung-tanggung, berbagai cabang berhasil dimenangkan dengan sangat mudah. Hampir semua cabang olahraga ia ikuti. Satu persatu medali penghargaan juga ia kumpulkan. Keluarga yang memandangnya sebelah mata dan sangat tidak berharga, kini hanya bisa berdecak kagum dan memujinya.

***

Sejak saat itu, keberadaan Adul seperti sebuah kemudahan khususnya bagi keluarga kecil kami. Gubuk kecil di pinggir desa yang di tempati mama dan papa selama bertahun-tahun, kini telah berubah. Rumah petakan dua kamar meski sederhana berdiri kokoh di belakang gubuk.

Aku tersenyum saat kembali mengingat celotehanku, Adul, bersama mama dan papa suatu malam.

“Rumah ini kita bikin satu kamar lagi, Ni”. Ucapnya ketika itu. Saat itu memang kami baru mempunyai satu kamar.

“Kamarnya buat Adul, Uni kan tempat nenek”. Tambahnya lagi.

“Enaak aja kamu! Nggak selamanya juga Uni tinggal di sana. Ya kan, Pa?”. Aku membantah.

Mama dan papa hanya tersenyum menyaksikan perdebatan alot kami.

Tuhan memberikan jalan dan kemudahan-Nya. Adul ternyata memang mewujudkan semua itu. Tidak hanya menyelesaikan rumah mungil itu, dia bahkan sudah memasukkan aliran listrik. Emang tidak semua biaya bulat dari dirinya. Kakek dan papa juga membantu. Tapi mimpi itu benar-benar terwujud.

Adul kini sudah menginjak remaja. Secara fisik dia sama sekali tidak berbeda dengan remaja pada umumnya. Pertumbuhan tubuhnya sempurna dengan tinggi berkisar lebih kurang 175 cm dan berat badan ideal. Wajahnya juga sangat tampan dengan belah dagu dan lesung pipi samar. Kulitnya sawo matang.

Tapi dia memang berbeda.

Tak akan tertepis jika dirinya seorang penyandang Tuna Grahita. Ia tak sempurna tapi selalu mampu menciptakan kesempurnaan bagi keluarga kecil kami. Adul memang penyandang Tuna Grahita, tapi aku, begitupun mama dan papa sangat bangga memilikinya.

Buat Adul, tetaplah bersinar, sayang. Uni menyayangimu..

***

 

Karya: Mutiara Hafidzah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *