Aku Harus Bersyukur  

 

Tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi fisik menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan kemampuan setiap orang. Orang yang fisiknya sempurna lebih mudah dalam mengembankan keampuannya dibandingkan orang yang berkebutuhan khusus. Misalnya, tuna wicara akan sulit menjadi pembawa berita, tuna netra akan sulit menjadi pembalam F1, dan sebagainya. Namun, apakah berarti orang yang berkebutuhan khusus tidak bisa mengembangkan kemampuannya sama sekali ? Apakah orang yang berkebutuhan khusus sudah tidak memiliki masa depan yang cerah lagi ?

Namaku Achmad Zamroni. Aku adalah mahasiswa angkatan 2011 Fakultas Agama Islam (FAI) jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Aku anak asli Yogyakarta, kedua orang tua saya juga asli orang Yogyakarta. Sejak lahir, aku sudah tidak bisa melihat. Sampai sekarang pun aku tidak paham tentang penyakit mata apa yang ku derita. Aku banyak mendapatkan cerita dari orang tua tentang masa kecilku, dari mulai aku dioperasi sampai cerita-cerita lucu masa kanak-kanak. Dari banyak cerita itu, aku mendapatkan banyak sekali pelajaran yang sangat bermanfaat untuk perjalanan hidupku sampai sekarang.

Syukur alhamdulillah aku panjatkan kepada Allah SWT yang telah menciptakan diriku di tengah-tengah keluarga yang sangat menyayangiku. Orang tua, paman, bibi, kakek, nenek, dan sepupu, semuanya sangat perhatian kepadaku. Aku lahir pada tanggal 4 Maret 1993 sebagai anak pertama. Sebagaimana orang tua pada umumnya yang sangat bahagia ketika dikaruniai seorang anak, orang tuaku pun sangat bahagia ketika aku dilahirkan. Hari demi hari, minggu demi minggu berlalu, aku terus tumbuh dan berkembang layaknya bayi-bayi yang lain.

Pada suatu hari, sepupuku yang sudah dewasa menemukan ada sedikit keanehan pada diriku. Pada bagian mata seperti ada selaput yang menghalangi lensa mata. Selain itu, pandanganku juga nampak kosong. Melihat keanehan itu, orang tuaku langsung memeriksakanku ke rumah sakit Dokter Sarjito Yogyakarta. Setelah dilakukan pemeriksaan, maka dokter memutuskan bahwa aku harus dioperasi untuk menyembuhkannya.

Orang tua mana yang tidak sedih mendengar anak pertama dan satu-satunya yang masih berusia 6 bulan harus menjalani operasi. Tidak hanya orang tuaku yang sedih, tapi hampir seluruh keluarga besar juga sedih. Melihat kondisi ayahku yang waktu itu hanya bekerja sebagai seorang penambang pasir di Sungai Progo, rasanya sulit untuk membiayai operasi katarak. Akhirnya, karena melihat kondisi keluargaku yang serba kesulitan, kakekku dan beberapa pamanku yang memiliki kelebihan harta, mambantu orang tuaku untuk membiayai operasi mataku. Selama hampir sebulan, aku dan kedua orang tuaku terpaksa harus bermalam di rumah sakit.

Sebulan berlalu dan operasi pun berjalan dengan cukup lancar. Hari demi hari berlalu pasca operasi, alhamdulillah akhirnya aku dapat melihat, aku bisa melihat benda-benda dan orang-orang di sekitarku. Meskipun aku sudah dapat melihat, namun jarak pandangnya sangat terbatas dan sulit untuk fokus karena lensa mataku tidak bisa berhenti dari gerakan-grakan kecil. Meskipun begitu, orang tuaku dan aku sekarang tetap bersyukur, karena pada waktu itu ada beberapa anak yang juga mejalani operasi mata, namun tidak berhasil sembuh dan berakhir dengan kebutaan.

Setelah aku bisa melihat, orang tuaku dengan penuh ketekunan dan kesabaran terus membimbingku agar bisa mandiri. Sejak usia 3 tahun hingga 5 tahun, orang tuaku membawaku transmigrasi ke Kalimantan Tengah. Kalimantan Tengah tahun 1996 sampai 1998 sangat berbeda dengan Kalimantan Tengah saat ini. Di sana masih banyak hutan, belum ada listrik, banyak jalan rusak, dan masih langka kendaraan bermotor. Orang tuaku, terus membimbingku dengan kondisi yang serba terbatas fasilitas. Aku diajari berjalan di kebun-kebun, diajari naik sepeda roda 4, diajari menanam jagung, memberi makan ayam, dan sebagainya. Jatuh saat berlari hampir setiap hari, bahkan jatuh saat berjalan, dan jatuh dari sepeda suadah sangat sering aku alami. Meskipun waktu belajarku tidak secepat teman-teman yang lain dan sering mengalami kegagalan, namun orang tuaku tidak pernah menyerah untuk membimbingku.

Setelah aku berusia 6 tahun, aku dan orang tuaku kembali ke Yogykarta. Di Yogya, aku mulai masuk SD di dekat kampungku. SD itu bukan SDLB, tetapi SD negeri biasa, tempat anak-anak dengan fisik normal. Pertama kali orang tuaku mendaftarkan aku ke SD ttersebut, aku disambut dengan kurang ramah. Setelah orang tuaku menjelaskan kelemahan penglihatanku kepada pihak sekolah, mereka menyuruh orang tuaku agar memasukkan aku ke SLB. Merasa bahwa aku bukanlah anak yang cacat, maka orang tuaku menjelaskan dan meyakinkan kepada pihak sekolah agar mau menerimaku masuk ke SD tersebut. Akhirnya pihak sekolah pun mau menerimaku untuk belajar di sana. Selama 6 tahun aku belajar di sana, aku tetap mampu menyesuaikan diri dengan anak-anak yang lain, meskipun pada awal-awal aku masuk, ejekan dari teman-teman lain sering ku alami. Ejekan itu dikarenakan jika aku membaca buku, jaraknya hanya sekitar 5 cm, walaupun itu sudah memakai kacamata yang tebal. Bahkan di kelas 2 SD, aku harus memakai alat bantu penglihatan jarak jauh semacam teropong yang masih ku pakai sampai kuliah sekarang. Memang prestasiku tidak terlalu gemilang, tapi aku tidak pernah keluar dari 10 besar ranking di kelas, kecuali saat kelas 4. Dalam berbagai aktivitas olahraga pun aku tetap mengikuti seperti anak-anak yang lain, misalnya kasti, sepak bola, lari, atletik, dan sebagainya.

Setelah lulus dari SD, aku melanjutkan ke salah satu Madrasah Tsanawyah Negeri terbaik di Yogyakarta yang ada di kabupaten Bantul. Di sanalah aku mulai menemukan semangat belajar yang sesungguhnya. Aku juga menemukan teman-teman yang sangat baik dan guru-guru yang sangat perhatian. Sama seperti di SD, aku juga selalu mengikuti setiap aktvitas pembelajaran seperti para siswa yang lain. Alhamdulillah dalam kurun waktu 3 tahun tersebut, aku tidak pernah meraih ranking dibawah 5, aku selalu masuk 5 besar. Bahkan aku berhasil meraih 2 kali ranking 1 di kelas VII dan kelas IX. Selain itu, aku pernah menjadi satu-satunya siswa dari 3 kelas yang mendapat nilai 100 saat ulngan harian matematika di kelas VIII, lalu guruku menhadiahiku sebuah buku matematika.

Setelah 3 tahun menimba ilmu di MTs, aku melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) yang tidak jauh dari MTs-ku dulu. Pada awal-awal masuk ke MAN, semangat belajarku masih tinggi. Aku tidak pernah keluar dari 10 besar peringkat di kelas, bahkan aku berhasil meraih 2 kali rangking 2 di kelas X dan XI. Namun di akhir kelas XI dan awal kelas XII, semangatku mulai menurun. Aku merasa tidak mampu lagi untuk bersaing dengan teman-temanku, aku mulai minder dengan keadaanku, aku menjadi anak yang pendiam dan sulit bergaul dengan teman yang lain. Aku juga mulai jarang belajar dan mengerjakan tugas, sehingga nilaiku mulai menurun.

Aku juga mulai berpikir untuk tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi setelah lulus nanti. Saat aku mendapat undangan untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN jalur undangan) tahun 2011, aku menolaknya, padahal tidak semua siswa bisa mendapatkan udangan itu. Saat itu, aku benar-benar tidak punya semangat lagi untuk belajar. Hidupku hanya mengalir tanpa kejelasan ingin kemana. Tidur, makan main HP, nonton TV, dan sekolah, hanya itu kegiatanku.

3 bulan menjelang ujian nasional, sedikit demi sedikit aku menemukan semangat belajarku kembali. Ketakutanku jika tidak lulus dan mengecewakan orang tua, memaksaku untuk kembali belajar. Acara-acara televisi yang aku tonton juga berpengaruh terhadap kembalinya motivasiku untuk belajar, seperti acara Mario Tegu Golden Ways, Kick Andy, acara-acara pengajian, dan lain-lain. Shalat 5 waktu yang dulu kadang ku tinggalkan, kini ku perbaiki kembali. Keinginanku untuk melanjutkan ke perguruan tinggi pun mucul kembali. Akhirnya, ujian nasional berhasil aku lalui dengan lancar.

Kembalinya semangatku untuk terus belajar, membuatku berani melakukan hal-hal yang selama ini takut untuk ku lakukan. Jika dulu aku tidak berani untuk menyeberang jalan raya yang banyak dilintasi motor dan mobil karena keterbatasan jarak penglihatan, aku mulai memberanikan diri untuk menyeberang jalan  raya sendiri. Jika dulu aku takut naik sepeda di jalan raya, kini aku mulai berlatih untuk pergi ke sekolah dan bermain ke rumah teman-teman yang jauh dengan naik sepeda. Aku juga mulai berlatih naik motor di jalan raya, bahkan di derah pusat kota bantul, namun tentu saja tidak dengan kecepatan tinggi karena jarak pandangku yang hanya sekitar 5 meter untuk melihat motor lain di depanku. Selama kurang lebih 3 bulan aku mulai naik motor, 3 kali aku kecelakaan dan hampir setiap hari aku dimarahi orang di jalan raya. Namun aku jadikan semua itu pembelajaran untuk melatih kekuatan mentalku menghadapi keadaan yang keras. Aku tidak menyerah walaupun sering juga aku hampir kecelakaan. Sampai saat ini, aku tetap naik motor ke kampus, meskipun tetap masih sering hampir kecelakaan.

Dalam kurun waktu 3 bulan setelah ujian nasional, aku juga mulai berburu perguruan tinggi yang akan ku jadikan tempat menimba ilmu. Waktu itu ada program SNMPTN jalur tes tulis dan aku mengikutinya. Saat aku ikut tes itu, alhamdulillah aku mendapat bantuan dalam mengerjakan soal-soalnya, aku didampingi oleh 1 orang yang bertugas untuk menuliskan jawabanku di lembar jawab komputer yang terdiri dari bulatan-bulatan kecil. Pada tes itu, aku memilih UIN Sunan Kalijaga jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) sebagai tempatku belajar. Hasil dari tes itu baru akan keluar 1 bulan lagi, karena tidak sabar, aku juga mengikuti ujian masuk jalur reguler di UIN Sunan Kalijaga dengan jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA). Setelah 1 bulan, hasil tes SNMPTN keluar dan alhamdulillah aku diterima di jurusan BPI UIN Sunan Kalijaga. Selang beberapa hari, hasil tes reguler UIN juga keluar dan alhamdulillah aku juga diterima di PBA UIN.

Aku menjadi sangat bingung karena diterima di 2 jurusan sekaligus pada waktu yang bersamaan. Kebingunganku semakin bertambah ketika ayahku menyarankanku untuk berkuliah di UMY yang jaraknya lebih dekat dengan rumahku. Aku diberi waktu hanya 4 hari untuk memutuskan ketiga pilihan tersebut, karena dalam waktu yang hapir bersamaan, waktu pendaftaran di UMY dan UIN akan segera ditutup. Setelah aku pikirkan dengan matang dan aku berdoa kepada Allah, maka ku putuskan untuk masuk ke UMY dan membuang dua jurusan di UIN Sunan Kalijaga. Mungkin terlihat aneh ketika aku lebih memilih universitas swasta daripada universitas negeri, namun hal itu aku putuskan bukan tanpa alasan. Aku memutuskan itu karena, pertama, aku menuruti nasehat orang tuaku, kedua, antara dua universitas itu memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda, dan ketiga aku ingin lebih berkontribusi untuk masyarakat di kampungku, yaitu dengan mengurus musola dan mengajar ngaji anak-anak di kampung, karena aktivitas keagamaan di kampungku kurang begitu berkembang.

Benar saja, pada bulah Ramadhan 2011 aku dipilih menjadi wakil ketua panitia kegiatan Ramadhan dan setelah Idul fitri, aku juga diberi tanggung jawab untuk mengajar ngaji di kampung. Sampai sekarang, aku masih ikut membantu megurus musola tersebiut, walaupun sudah tidak aktif mengajar ngaji lagi karena kesibukanku kuliah dan organisasi di kampus. Di kampus, selain sibuk kuliah, aku sekarang juga aktif di organisasi LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an) UMY dan juga membantu teman-teman di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) PAI. Selain itu, aku juga sangat suka menulis, terutama menulis opini. Alhamdulillah 5 tulisan opiniku pernah dimuat di kolom Publika di situs berita Republika Online. Alhamdulillah, Allah juga memberiku kesempatan menjadi juara 3 lomba menulis opini yang diadakan oleh BEM FAI UMY tahun 2013 dan juara 1 lomba menulis opini yang juga diadakan oleh BEM FAI UMY tahun 2014.

Itulah sedikit cerita tentang prjalanan hidupku. Bukan bermaksud untuk menyombongakn diri, namun hanya ingin menebar inspirasi. Semua nikmat itu datangnya dari Allah dan akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah, tak ada yang hebat kecuali Allah. Tanpa izin-Nya, aku tak mungkin bisa melihat, tanpa restu-Nya, aku tak mungkin bisa berprestasi. Bersyukur atas indahnya nikmat mata yang telah diberikan oleh-Nya. Meskipun sering orang memandangku sebelah mata, tapi syukur kepada-Nya membuat semua menjadi indah.

Karya: Achmad Zamroni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *