when does viagra go generic military viagra viagra prank can you snort viagra

Karena Hidupku Bukan Kepak Sayap Sunyi

Jika langit gelap dan berkabut mendung maka kita tahu, ia akan kembali dengan langit yang cerah. Penuh kebiruan. Entah sepersekian detik kemudian. Sepersekian menit kemudian, bahkan perlu berjam-jam untuk menunggu akhir sebuah penantian. Ia tak selamanya kabut. Ia sekadar singgah sebentar. Menjalani takdir yang sudah ada dalam kuasa-Nya. Usai kabut, biasanya gerimis bertandang. Lalu, rintik demi rintik saling tunggang langgang membentuk serenade hujan yang senantiasa berkumandang.

Sereneada hujan pun tak selamanya memberi kita tentang irama kegelisahan. Tentang nada-nada gelap yang sebelumnya menghantui kita. Ia yang senantiasa member kita hidup. Membentuk noktah-noktah kehidupan yang saling berkelindan dalam satu kesatuan alam semesta. Hujan member kita tentang arti yang sesungguhnya tentang hidup. Tak selamanya ia bernilai gelap, buruk, dan penuh kegelisahan. Tak cukup untuk berdialektika hal-hal yang semacam itu saja. Ia senantiasa memiliki satu sisi tentang hal-hal yang bersemayamkan ruh-ruh kebaikan, berkas demi berkas cahaya saat kita terperosok dalam gelap.

Pagi itu, mendadak langitku gelap. Ia hadir tanpa aku duga sebelumnya. Ia yang datang tanpa member kabar pada sepoi yang senantiasa singgah di pagiku. Tak berkabar pada hariku. Tak berijin pada diari kehidupanku. Tak lagi kudengar riu rendah sepoi pagi yang senantiasa berdesir kala melwati celah-celah mungil dari dinding anyaman bamboo rumahku. Tak lagi kudengar kicauan burung jalak yang setiap pagi menemaniku membasahi tubuh mungilku di sumur belakang rumah.

Pagi itu. Ya, pagi itu, benar-benar menjadi awal dari “kematian”-ku. Semua mimpi mendadak aku redam. Diari kehidupanku tentang masa depan telah kuhanguskan. Aku tak lagi berpikir tentang masa depan. Aku lebih memilih benar-benar berada dalam kematian yang abadi. Bagaimana tidak sakit. Bagaimana tidak letih. Bagaimana tidak merintikkan air mata ketika engkau benar-benar kehilangan masa kanak-kanakmu? Bagaimana engkau tidak ingin membenamkan dirimu ke dalam tanah, mengembara ke tempat yang terasing, pergi ke tempat yang tak pernah orang lain mengetahui keberadaan kita, ketika masa kanak-kanakmu kehilangan ruh untuk melalui hidup menuju kea rah kedewasaan? Bagaimana tak menginginkan kematian yang abadi ketika hidupmu tinggal jiwa, tanpa ruh?

Namun, itulah yang kualami, Kawan. Ya, aku mengalami “kematian” itu sejak usaia sebelas tahun. “Kematian” itu bermula ketika aku kehilangan pendengaran di kedua telingaku.  Aku tak lagi dapat mendengar tentang nyanyi sepoi pagi dan senja yang eksotik dengan bingka panorama Gunung Slamet di barat rumah mungilku,. Tak pernah lagi kudengar kicau burung pipit yang seringkali singgah di Bunga Manggar di depan rumahku. Tak pernah lagi kudengar alunan ngaji dari teman-temanku di ruang tamu yang cukup luas. AKU TELAH MENJADI TUNA RUNGU.

Semenjak itu, hampir selama dua tahun lamanya aku mengurung diri di dalam rumah, cemoohan dan hinaan menjadi hal yang sering saya temui.

“Paling-paling Cuma jadi tukang cangkul”

Itulah kata sepupuku. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah aku bayangkan. Namun, aku bersyukur, lahir dan besar dalam lingkungan dengan didikan agama yang cukup keras. Ia mengajariku bagaimana menerima sebuah takdir, memahami hakikat Kuasa Allah.

Sejak mengalami tuna rungu, aku memutuskan untuk keluar sekolah meski sudah kelas enam SD dan sebentar lagi ujian nasional. Selama vakum sekolah itulah, orang tuaku terus memaksa agar aku kembali ke sekolah. Namun, aku baru memahami bagaimana pentingnya arti sekolah bagiku, bagi kehidupanku, dua tahun berikutnya.

“Tanpa sekolah kamu mau jadi apa?”

Itulah kata-kata ibuku yang membuatku berpikir ulang keputusanku yang ngambek untuk tidak bersekolah. Ada benarnya, tanpa sekolah aku tidak bisa apa-apa. Tanpa sekolah, aku takkan mampu menjadi manusia yang sesungguhnya. Tanpa sekolah, barangkali aku hanya akan menjadi gelandangan. Tanpa sekolah, barangkali aku hanya akan jadi tukang cangkul, seperti yang dikatakan sepupuku.

Akhirnya, Sabtu, aku tak ingat tanggalnya, adalah hari yang bersejarah dalam hidupku. Ini akan senantiasa kukenang. Pada hari itu aku kembali ke sekolah setelah dua tahun vakum. Karena hanya meneruskan sesuatu yang ditinggalkan sebelumnya, aku langsung duduk di bangku kelas enam.

Saat pertama kali masuk sekolah, tanggapannya beragam. Namun sebagian besar, Alhamdulillah, menerimaku apa adanya. Bahkan di bantu untuk mencari kursi sebagai tempat duduk ke kelas 5B yang memang ada beberapa kursi yang menganggur.

Hal pertama yang kulakukan ketika Pak Tohar, guru kelas kami, adalah mencium tangan beliau. Beliau mengatakan selamat datang. Aku sedikit bisa menerjemahkan kata-kata beliau lewat gerakan bibir. Selama ini, sejak menjadi tuna rungu, aku lebih banyak melihat gerakan bibir ketika orang sedang berbicara. Kalau tidak, media tulis menjadi jalan terakhir. Kedua telingaku ke mana? Ya Rabb! Ighfirliy!!

Di sekolah ini, aku satu-satunya yang berbeda. Sebagai satu-satunya yang tuna rungu, membuatku harus berpikir untuk melakukan sesuatu yang lain agar tidak ketinggalan materi pelajaran. Sebagai seorang tuna rungu yang tanpa alat bantu dengar, mengingat keterbatasan ekonomi keluarga, aku pun berusaha mencari inisiatif agar dapat meraih hasil maksimal dalam pembelajaran. Saat materi didikte Pak Guru, aku tinggal menyontek ke Chairil, teman sebangku sekaligus sepupuku sendiri. hal ini cukup membantu.

Meski demikian, tidak selamanya langit itu cerah. Senantiasa ada kabut yang bertandang, sebagaimana yang sudah kujelaskan sebelumnya. Tersebab, ialah sebuah takdir. Sesuatu yang tak dapat kita bantah.  Saat mata pelajaran bahasa inggris, seringkali aku dikerjain teman-teman. Hampir dalam setiap mata pelajaran ini, aku disuruh membaca teks bahasa inggris. Padahal, akibat kondisiku yang tidak bisa mendengar, dengan melihat kenyataan bahwa teks yang tertulis dalam bahasa inggris berbeda dengan pengucapan (speaking) membuat yang kubaca hampir semuanya salah. Ironisnya, selain teman2 yang lain kalau disuruh membaca tidak mau, guru bahasa Inggris justru selalu mengaminkannya.

***

“Nif, kamu rangking dua”

“Masa?”

“Benar. Kita sama-sama rangking dua”

Kata-kata yang aku “dengar” dengan melihat gerakan bibir dan sedikit ekspresi jari tangan dari Ainul, teman baikku ini membuat saya syok. Tak percaya terhadap yang baru saja terjadi. Bagaimana tidak mungkin, baru sekitar tiga bulan kembali masuk ke sekolah setelah dua tahun vakum. Sebelumnya, sama sekali tak bersentuhan dengan materi pelajaran. Namun, bagaimana aku bisa mendapat rangking dua, padahal teman-teman yang lain “normal” semua?

Dengan penuh semangat. Ingin cepat-cepat sampai ke rumah. Ingin segera kujejaki rumah mungilku yang selama ini menjadi tempatku membaringkan dan menyandarkan keluh kesahku. Ingin segara kutemui ibuku, bapakku. Orang yang membuatku ada. mereka yang membuatku mengenal kembali kata hidup. Mereka yang mengembalikanku mengenal kembali kata “sekolah”

“Ma, aku rangking dua”

Ibuku sontak gak percaya ketika mendengar kata-kata yang aku ucapkan ketika pertama kali menjejakkan kakiku di rumah.

“Masak?”

“Beneran, Ma”

“Coba lihat!” pinta ibu sembari mengulurkan tangan kanannya.

Ibu segera membuka rapor berwarna merah tua. Perlahan-lahan kedua matanya kulihat berkaca-kaca. Aku tak tahu, ia sedih atau berduka. Barangkali ia sedih, karena ia pernah bercerita kepadaku kenapa aku yang mengalami cobaan seperti ini. kenapa harus anaknya yang harus menghadapi cobaan sendirian. Sebagai seorang ibu, aku tahu, ia turut merasakan sakit yang teramat sangat. Kini, ia menyadari, anaknya sebenarnya memiliki kemampuan lain, yang sebenarnya cukup mampu bersaing di sekolah. Namun lagi-lagi, kenapa, kenapa, kenapa harus anaknya yang harus menanggung beban berat seperti ini, seorang diri?

Sejak mendapat rangking dua, aku semakin percaya diri. Tanggapan orang-orang sekitar pun mulai berubah. Aku menyadari, bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang membedakan hanyalah diri kita masing-masing. Apakah kita sekadar hidup saja, atau membuat hidup lebih bermakna. Andaikan aku enyerah dalam hidup, tak memutuskan untuk sekolah lagi, bukan tak mungkin aku tetap tenggelam dalam kematian hidupku.

Pada kenyataannya, aku sadar, bahwa apa yang terjadi adalah yang terbaik bagi umat_nya. tinggal bagaimana kita membaca, mengartikan dan menyikapi sebuah takdir. Aku sadar, hidup adalah sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawab, dan jawaban itu hanya bisa kita dapatkan dengan menjalaninya. Pada akhirnya, kita tak dapat berpaling dari hidup. Hidup harus dilalui, harus dihadapai, apapun yang terjadi.

Aku bersyukur, kerja kerasku tidak sia-sia. Saat pengumuman hasil ujian nasional saya berhasil meraih rangking satu secara parallel. Padahal, semua teman-temanku “normal” semua. Tidak ada hadiah apapun dari orang tua atas prestasiku. Tidak aku sadar, keluarga kami bukan siapa-siapa, dari kalangan sederhana dan tidak berada. Namun, bagiku, cukuplah bisa membuat kedua orang tuaku bahagia. Cukup doa yang tulus dan ikhlas dari mereka. Sebab aku percaya, doa kedua orang tua lebih ijabah.

Allah lebih tahu, apa yang terbaik bagiku, bagi hamba-Nya. bekal dari nilai ujian nasional (UN) yang cukup menjanjikan, bapak menyuruhku untuk melanjutkan di MTs Negeri yang masih satu kecamatan dengan rumah kami. Di sini, semuanya juga berisi siswa-siswi yang “normal”, hanya aku yang berbeda, sebagai difabel, sebagai tuna rungu. Namun aku bersyukur dari kelas satu dsampai tiga selalu mendapat rangking. Bahkan, berhasil masuk lima besar dalam UN secara parallel dari 250-an siswa yang semuanya “normal”.

Di SMA Ma’arif yang menjadi jenjang pendidikan sebelumnya pun demikian. Aku satu-satunya yang difabel, juga yang tuna rungu. Namun bersyukur selalu mendapat rangking pertama. Hobi menulis yang sejak MTs pun semakin tumbuh subur. Tiga kali ke Semarang dalam lomba menulis tingkat SMA menjadi bukti nyata ditengah persaingan dg semua peserta yang “normal”.

Bagaimana aku bisa belajar? Pahami setiap catatan yang ditulis guru di papan tulis. Tak segan bertanya dan minta bantuan teman di samping untuk mencatatkannya. Rajinlah membaca. Pun, sejak SMA aku dijuluki “kutu buku”. Tapi, demi sebuah kemajuan harus ada inisiatif. Pikiran perlu digerakkan, bukan menunggu untuk digerakan. Itulah yang kubaca dari sebuah buku. Kini, tak pernah terbayangkan bisa menjangkau Universitas Gadjah Mada, kampus terbesar di Indonesia. menjadi mahasiswa kampus nasional tertua ini. kondisi ekonomi yang serbat terbatas, tak menjadi penghalang bagiku untuk menggapai pendidikan yang setinggi-tingginya. Alhamdulillah, kuliah dengan beasiswa penuh di UGM berhasil aku wujudkan, pun bisa hidup mandiri selama di Yogyakarta. Kini, aku semakin yakin, bahwa hidupku tidaklah senantiasa mengepakkan sayap-sayap kesunyian. Hidupku adalah noktah-noktah yang senantiasa bergema dan saling bersandiwara. Mendengar yang diceritakan dan dikabarkan dunia, dengan mata hati yang sanggup mendengarkan alunan semesta.

Targetku berikutnya adalah mengepakkan sayap ke luar negeri untuk mengambil S2 di bidang Politic and Government sciences atau Public Policy, dengan beasiswa pula. Aamiin ya mujibassailin… (Yogya, 15/2/2014)

 

Karya: Mukhanif Yasin Yusuf, penyandang tuna rungu sejak usia 11 tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *