can i take 2 viagra 100mg womens viagra for sale non prescription viagra alternative when does viagra patent expire natural viagra recipe

Terus Bangkit, Terus Beprestasi

Setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan tak terkecuali kaum tunanetra. Pernyataan ini seolah menggugah kesadaran masyarakat agar memiliki kepedulian dan perhatian penuh terhadap anak-anak yang menderita kelainan fisik dan mental. Kesadaran ini, tentu bukan karena ingin mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang lain, tetapi ini dilakukan dalam rangka menjunjung tinggi nilai-nilai humanitas dan solidaritas sebagai sesama yang juga berkesempatan memperoleh hak-hak hidup secara layak. Terkadang Anda berpikir negatif dan cenderung mengesampingkan anak-anak yang berkelainan dari segi fisik dan mental. Karena alasan itulah, Anda seringkali mengabaikan dan acuh tak acuh bahwa mereka mempunyai kedudukan yang sama dengan kita dalam segala apa pun.

Inilah yang terjadi dengan tunanetra, sosok manusia yang dalam kehidupan masyarakatnya kurang mendapatkan perhatian dan seringkali karena kelainannya itu, mereka termarginalkan oleh lingkungan tempat tinggalnya. Dalam segala aspek kehidupan pun, tunanetra tidak bisa bergaul selayaknya anak-anak normal yang punya gairah bermain, belajar, dan bercanda.

Saya punya pengalaman menarik, ketika bertatap muka langsung melihat kondisi tunanetra yang berkecimpung dengan aneka alat, semisal permainan, mesin tik Braille, komputer dengan program Braille, printer Braille, abacus, calculator bicara, kertas braille, penggaris Braille, kompas bicara dan lain sebagainya. Pengalaman saya bertemu Andi berkaitan dengan kegairahan dan semangat yang berlipat dari kaum tunanetra yang belajar di Sekolah Luar Biasa (SLB). Walaupun secara logika, Andi tidak memiliki masa depan yang cerah seperti anak-anak yang lain, namun semangat kebersamaan dan kegigihan mereka dalam menjalani hidup dan proses belajar patut diacungi jempol. Ini karena, mereka bisa menjalin persaudaraan yang kokoh untuk tetap maju menatap masa depan yang menjadi dambaan mereka.

Ketika saya bertanya kepada Andi, apa yang anda impikan dengan kondisi anda yang tidak memungkinkan ini? Mereka menjawab, “saya hanya ingin seperti anak-anak yang lain, yang mempunyai cita-cita tinggi dalam hidup. Di samping itu, harapan saya yang paling besar adalah dukungan dari semua pihak, baik pemerintah, lingkungan masyarakat, keluarga, teman-teman, tenaga pendidik khusus tunanetra, agar selalu memberikan semangat kepada kami semua yang tidak sama dengan mereka”. Ketika itu pula, saya berpikir bahwa tunenetra mempunyai keinginan yang sama, perlakuan yang baik, dan kesempatan yang setara dalam hidup, terutama ketika memasuki dunia pendidikan formal.

Pengalaman saya berkumpul bersama Andi, membuat saya semakin dewasa untuk memberikan santunan dan motivasi yang besar bagi mereka. Bahkan, karena seringnya berkumpul, hati saya sangat tergugah untuk memberikan hal yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Ini karena, seorang tunanetra bernama Andi yang pernah berkumpul bersama saya, memiliki keinginan yang kuat untuk bertahan dalam kondisi apa pun, dan ketika memasuki pendidikan formal, dia semakin percaya diri dalam menjalankan aktivitasnya sebagai seorang pelajar. Dari segi pergaulan pun, dia selalu fun dengan kondisinya dan tidak ada perasaan terabaikan sedikit pun dari pergaulan bersama teman-temannya yang memiliki fisik sempurna.

Keterbatasan-Keterbatasan Kaum Tunanetra

Kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia, menjadi hak bagi setiap individu manusia, tak terkecuali bagi perempuan tunanetra. Karena mereka mempunyai cita-cita untuk memperoleh ketenangan dan ketentraman hidup dengan kesempatan kerja yang ada di depannya. Walaupun dari segi fisik tidak mendukung, namun paling tidak mereka juga mempunyai semangat untuk mendapatkan haknya sebagai manusia, yakni memperoleh kesempatan kerja seperti halnya manusia normal lainnya.

Perempuan tunanetra yang mengalami cacat fisik, secara kasap mata memang sangat sulit untuk mendapatkan tempat di dunia kerja. Keterbatasan fisik maupun kemampuan yang dimiliki perempuan tunanetra merupakan problem utama dalam memperoleh kesempatan kerja. Bagi perempuan tunanetra yang hidup di Indonesia, pada gilirannya harus mendapatkan perhatian dan kepeduliaan dari pihak pemerintah. Karena mereka juga adalah bagian dari warga Indonesia yang mempunyai hak yang sama untuk memperoleh kesempatan dalam dunia kerja. Pemerintah seharusnya mempunyai strategi alternatif untuk menampung perempuan tunanetra agar mereka bisa mengembangkan skill dan potensinya.

Kepedulian terhadap perempuan tunanetra, pada dasarnya tidak hanya menjadi tugas pemerintah, akan tetapi kita semua warga Indonesia juga turut ikut serta dalam memberikan semangat dan kepercayaan kepada mereka. Motivasi kita bagi mereka tentu sangat bernilai dan bermakna, karena hal itu menjadi kobaran semangat yang sangat besar untuk tidak putus asa dengan kehidupan mereka yang tidak sempurna.

Perempuan tunanetra dalam kehidupan, memang tidak lepas dari berbagai keterbatasan-keterbatasan. Keterbatasan-keterbatasan itu menjadi penghambat bagi perempuan tunanetra untuk menatap masa depannya. Di samping itu pula, mereka akan merasa terkucilkan dan terabaikan di lingkungan mereka tinggal. Keterbatasan-keterbatasan tersebut, menurut saya menjadi problem mendasar bagi perempuan tunanetra yang ingin mendapatkan kesempatan kerja. Sebab, diyakini kesempatan kerja bagi mereka sangat kecil dan tidak mudah untuk diperoleh.

Keterbatasan-keterbatasan bagi perempuan tunanetra dapat diklasifikasi sebagai berikut. Pertama, keterbatasan fisik yang tidak menguntungkan. Keterbatasan ini pada hakikatnya berpengaruh pada kemampuan mereka ketika sedang bekerja, sehingga hasil yang diperoleh tidak maksimal dan terkesan gagal total. Kemampuan fisik bagi seseorang memang sangat dibutuhkan untuk menopang aktivitas kerja yang sangat berat. Kedua, keterbatasan kemampuan berpikir. Keterbatasan berpikir memang bukan merupakan keterbatasan paling utama, namun paling tidak keterbatasan tersebut berpengaruh terhadap kemampuan mereka dalam menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi.

Ketiga, keterbatasan memaksimalkan kinerja ketika melakukan aktivitas kerja. Harus diakui, bahwa secanggih apapun kemampuan yang dimiliki perempuan tunanetra kalau mengalami cacat fisik, maka kemampuan memaksimalkan kinerja tidak akan pernah sempurna. Hal ini, dikarenakan perempuan tunanetra tidak memiliki kesempurnaan anggota tubuh seperti orang-orang pada umumnya. Hingga manusia telah mencapai abad 21 ini, sebagian besar masyarakat terutama di Indonesia masih beranggapan bahwa tunanetra, meskipun telah diberikan rehabilitasi, termasuk rehabilitasi pendidikan dan rehabilitasi vokasional, tetap saja mereka tidak dapat menjadi sumber daya manusia yang mandiri dan produktif. Akibatnya, mereka ditempatkan sebagai warga masyarakat yang senantiasa harus disantuni.

Persepsi ini ternyata memiliki dampak yang sangat luas. Kebijakan yang dibuat untuk kepentingan orang tunanetra, tidak pernah melibatkan tunanetra. Masalah ketunanetraan selalu dilihat dari dimensi orang-orang yang bukan tunanetra. Bahkan sistem sosialpun dirancang tanpa memperhitungkan kepentingan orang-orang tunanetra. Tidak jarang kepentingan tunanetra hanya dijadikan obyek penyelenggaraan sebuah proyek yang didanai oleh hutang luar negeri.

Karena sistem sosial tidak dirancang dengan mempertimbangkan kepentingan kaum tunanetra, akibatnya mereka tidak dapat memasuki kehidupan “main stream”. Di bidang pendidikan misalnya, mereka disisihkan disekolah-sekolah luar biasa dan panti-panti rehabilitasi yang hanya memberikan ketrampilan yang bersifat konvensional, misalnya membuat sapu, keset, memijat, karena menurut para perancang kebijakan hanya itu saja yang bisa dilakukan tunanetra. sAkibatnya, di bidang tenaga kerja, kesempatan dan peluang kerja yang mereka milikipun juga sangat terbatas, sementara saudara-saudara mereka yang berpenglihatan normal telah melesat jauh meninggalkan mereka, terutama sejak makin berkembangnya teknologi informatika sebagai sarana bantu dalam kehidupan manusia.

 

Berikan Kami Kesempatan

Selama ini bidang kerja untuk tunanetra,  maaf, kalau tidak mengemis, memijat. Padahal sebenarnya mereka bisa menjadi operator, maupun teknesi komputer yang mampu mengotak-atik teknologi tersebut sebagai bagian dari upaya untuk pengembangan skill dan potensi mereka. Bahkan, ada teman saya yang bekerja di bagian sumber  daya manusia  (SDM), english trainer di salah satu hotel, financia/  accounting, dan yang paling  akhir ada yang menjadi public relations officer. Jadi sebenarnya peluang  kerja kaum tunanetra begitu sangat luas kalau diberi kesempatan yang sama dengan orang lain.

Kalau semua pihak berpikiran  terbuka  dan berbesar hati untuk menerima kaum tunanetra, saya yakin mereka akan mendapatkan peluang kerja. Karena pada kenyataannya, mereka juga mahluk Allah yang perlu dihargai walaupun mengalami cacat fisik. Dengan semangatnya yang menyala-nyala dan kepercayaan diri untuk menjadi orang sukses, nicscaya mereka mempunyai kesempatan yang sangat besar dalam rangka pengembangan skill dan potensi yang terdapat dalam pribadi mereka masing-masing.

Di samping itu pula, pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk memberikan perhatian lebih bagi mereka yang menyandang cacat. Mereka juga berhak mendapatkan kesempatan layaknya orang pada umumnya. Perhatian pemerintah ini, menurut saya dapat menjadi motivasi bagi perempuan tunanetra dalam mengembangkan kemampuan profesionalnya yang sudah ada. Bagi saya, perempuan tunanetra punya potensi untuk berkembang. Hanya saja mereka tidak diberi peluang dan kesempatan yang sama oleh pihak tertentu yang kurang peduli terhadap perempuan tunanetra. Kalau saja mereka diberikan kesempatan secara penuh, maka kesempatan kerja pun akan muda untuk didapatkan.

Kita dapat mengambil pelajaran berharga dari Irawan Mulyanto yang akrab  dipanggil Bang  Iwa, seorang yang memiliki keterbatasan fisik yang  biasa orang menyebutnya sebagai tuna netra. Dia sekarang aktif  sebagai pengelola website bernama  kartunet.com yang merupakan  kepanjangan dari karya tunanetra dot com. Menurut Irawan  Mulyanto, kehadiran website kartunet.com sebagai salah  satu bukti  bahwa tunanetra juga mampu bekerja seperti orang yang tidak memiliki keterbatasan fisik. Kehadiran website ini juga untuk mencoba  membuka  kesempatan kerja untuk teman-teman terutama tunanetra.

 

Karya: Mohammad Takdir Ilahi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *