Terus Bangkit, Terus Beprestasi

Sebuah autobiografi perjalanan Muhammad Karim Amrullah dalam pendidikan

 

Segala prestasi yang telah saya capai sampai saat ini, tentu tidak terlepas dari masa lampau. Masa lampau yangmana saya sempat merasa down karena kondisi difabilitas saya. Sewaktu kecil saya sebenarnya seorang yang periang dan bukanlah seorang yang peragu termasuk bergaul. Dulu saya merasa semua orang adalah sama kedudukannya, bagaimanapun latar belakang dan kondisinya termasuk difabel. Dulu ia merasa dunia ini damai karena setiap orang dapat menghargai setiap perbedaan yang ada. Namun itu hanyalah angan-angan, setelah saya mengetahui kondisi sesungguhnya.

Sejak SD, beberapa teman menyebut saya sebagai T-Rex, sejenis dinosaurus yang memiliki kedua tangan yang pendek dan jumlah jari kurang dari lima. Meraka selalu mengatakan bahwa julukan itu dikenakan kepada saya karena saya bisa berlari cepat. Awalnya saya cepat percaya juga. Ketika awal menduduki kelas 4 SD, saya baru tersadar bahwa sebutan T-Rex merupakan bahan ejekan saya, karena mereka menyamakan kondisi difabel saya yang memiliki tangan kurang sempurna sejak lahir. Pertama kalinya saya sempat merasa down. Dunia seakan gelap bagiku. Hari demi hari kujalani seolah dunia gelap dan semakin gelap. Pikiranku menjadi sering mengawang-awang, seolah selalu bertanya kepada Tuhan, mengapa Engkau menciptakanku demikian? Keluarga khususnya ibu, saudara, guru-guru dan teman-teman SD Muhammadiyah Condongcatur Yk terus memotivasiku agar tidak malu. Sampai akhirnya pada waktu itu saya berpikir: kondisiku memang cacat, namun itu bukan alasan bagiku untuk menyerah… dan menyerah hanya akan menambah masalah!

Hal inilah yang membuat saya bangkit sampai dengan saat ini. Kelas 5 SD saya mencoba untuk bangkit pertama kalinya sejak down sebelumnya. Sempat ranking 1 di kelas sewaktu 5 SD, meski pada tahap selanjutnya nilai kembali tidak stabil sama seperti sebelumnya. Mencoba bangkit kembali bukanlah hal yang mudah. Setiap manusia tentu punya masalah sendiri-sendiri dan harus bisa memecahkannya. Namun pengalaman down pertama kali itu merupakan suatu hal yang amat berat bagi saya, meski pada akhirnya hal inilan yang membuat saya kuat.

Karena memang sifat dasar saya juga seorang yang ngeyel, membuat agak kewalahan untuk masuk SMP setelah lulus SD dengan nilai pas-pasan. Mendaftar sana-sini, terpental sana-sini pula. Hingga pada akhirnya saya diterima di SMPN 1 Depok Sleman. Betapa bersyukurnya mengingat kepala sekolah khususnya, guru dan staff, juga teman-teman mereka dapat menerima saya dengan senang hati, sama seperti SD dulu. Saru hal yang membuat saya sedih, ada teman saya dengan tubuh yang kecil, menjadi cap ketidaknormalan alasan tidak diterima di salah satu SMP unggulan dan akhirnya tidak sengaja satu SMP dengan saya. Ternyata tidak hanya saya yang merasakan diskriminasi demikian.

Sejak SD bakat menggambar memang tidak hilang dan justru terus semakin tampak sampai SMP. Namun tantangan baru muncul kembali. Saya merasa ada segelintir  teman-teman yang iri karena saya bisa menggambar, seolah tidak ingin kalah dengan difabel dengan stigma negatif. Awalnya aku menganggap aku hanya suudzon, namun dari pengamatanku benar adanya. Salah satu kisah, ketika ada lomba 17-an di internal SMP. Saya menjadi perwakilan putra dari kelas, satu lagi teman saya perwakilan putri. Hari H lomba, segera saya berjalan menuju ruangan lomba, mencari tempat duduk yang membuatku nyaman, di baris depan bagian kiri, lalu mulai menggambar. Penonton tentu keliling sana-sini.

Ada seorang mahasiswi KKN di sekolahku yang melihatku kagum cekatan menggambar. Ia mendekatiku dan memulai pembicaraan denganku. Saya tidak terganggu dengannya. Lambat laun, semakin banyak yang menuju ke arahku dengan perasaan yang kagum pula. Ternyata masih banyak orang yang menghargai difabel, gumamku. Singkat cerita, pengumuman beberapa hari setelah lomba keluar. Alhamdulillah saya juara 1. Tepuk tangan dan ucapan selamat bergiliran datang. Rasa syukur dan gembira dengan menyalami. Kemudian setelah selesai  upacara, hadiah berupa beberapa alat tulis aku ambil. Alat tulis aku bagikan ke teman-teman, termasuk teman perwakilan putri sekelas saya. Ucapan terima kasih darinya terasa tak enak saya dengar. Saya mencoba untuk tetap ikhlas, toh saya juara dan niat baik saya untuk berbagi.

Namun rasa sedih meyelimuti kembali. Siapa yang juara 1 sebenarnya akan menjadi perwakilan sekolah untuk tanding dengan sekolah lain, dan akan terus naik hingga provinsi. Perwakilan yang ditunjuk guru seni rupa bukanlah saya, tapi teman saya yang putri sekelas dengan saya itu. Sesungguhnya sudah sejak awal saya menduga hal itu, mengingat kedekatan hubungannya dengan guru seni rupa itu. Saya berusaha berpikir positif. Kemudian satu permintaan saya hanya meminta lukisan saya itu sebagai kenangan. Itu saja, tidak lebih. Kejanggalan kembali muncul. Beliau menolak dengan alasan untuk menjadi kenang-kenangan di sekolah. Saya kemudian meminta agar bisa memfoto gambarnya, dan kembali ditolak dengan alasan tidak bisa memperlihatkan saat itu karena sedang sibuk. Saya kembali meminta di lain hari dan sangat berharap akan hal itu, karena bagaimanapun juga iktu merupakan sebuah kenangan. Hingga pada suatu titik akhir dengan alasan yang amat tidak logis: maaf lukisanmu hilang…

Ini seperti kedua kalinya: yang pertama diejek, yang kedua iri dan seolah tidak mau kalah. Sungguh, siapapun jika diberi pilihan tentu ingin menjadi orang yang normal, meski tidak jelas bagaimana kriteria, yang penting disebut normal. Namun yang kali ini saya tidak merasa terlalu down, mengingat bukan pertama kali. Pun demikian masih banyak teman dan guru yang masih bisa saya harapkan. Mencoba bangkit kembali., khususnya pada kelas 3 SMP. Kebetulan kondisi scoliosis yang diketahui sejak kelas 3 SD, semakin parah saja. Justru itu yang membuat saya bangkit, khususnya tersadar bahwa selama ini saya belum bisa membahagiakan orang tua yang telah tulus dan ikhlas merawat dan membimbing saya, hanya dengan sekedar nilai yang bagus saja. Lulus SMP nilai lebih baik dari kelulusan SD, khususnya matematika dapat nilai 9.00 dan yang lainnya nilai 8.00 keatas, meski jatuh di IPA nilai 6.75 saja.

Setelah lulus SMP, saya harus menjalani operasi scoliosis. Seharusnya hal ini dilakukan sejak dini diketahui bahwa saya scoliosis. Namun apa daya, sulitnya mendapat info tentang scoliosis dan baru tahu akan hal tersebut setelah diberitahu saudara dari Jakarta, waktu itu masih kelas 2 SMP. Sebenarnya pada saat itu mau operasi langsung, namun lagi-lagi pertimbangan kondisi pendidikan di Indonesia, yangmana ke depan tentu persaingan semakin sulit dan sistem kurikulum yang gonta-ganti semakin tidak jelas. Rasa sakit dan kondisi skolosis semakin parah harus sabar ditahan hingga kelulusan SMP tahun 2006. Atas pertimbangan itulah operasi dilakukan setelah lulus SMP: dengan taruhan mati atau kecacatan bertambah!

Operasi dilakukan di salah satu rumah sakit pemerintah di Klaten, berlangsung dari pagi sampai sore hari, tujuh jam lamanya. Alhamdulillah berjalan lancar dan mengurangi parahnya kondisi meski tidak seutuhnya. Meski tidak dapat beraktivitas dengan lancar, saya tetap mencoba sekolah di Madrasah Aliyah Negeri 1 Yogyakarta, setelah akhirnya diterima di sana tahun 2009. Kondisi sulit muncul kembali. Rasa perih sering menyelimuti, mengingat belum lama operasi selesai dilakukan dan harus memakai baju besi sebagai penahan dan pelindung, yang tentu saja menambah rasa panas.

Namun hal ini justru membuat saya bangkit. Kepala sekolah, guru, staf, serta teman-teman dapat menerima dan terus mendukung saya. Alhamdulillah teman-teman dapat berpikir dewasa sehingga tidak ada diskriminasi lagi yang saya alami. Meski kelas 1 SMA nilai jeblok mengingat kondisi yang tidak memungkinkan. Kelas 2 dan kelas 3 meraih rangking 2 se-jurusan kelas IPS. Masa-masa akhir duduk di SMA, terdapat kenangan non-akademik sebagai Juara 1 Lomba Fotografi tingkat pelajar dalam rangka 60th Relationship Indonesia-Germany dan mendapat predikat sebagai pelajar terdisiplin di sekolah yang diumumkan sewaktu kelulusan.

Prestasi nilai ini kemudian mengantarkan saya ke fakultas hukum Universitas Gadjah Mada melalui SNMPTN Undangan 2012. Saat pengumuman diterima, saya nyaris tak percaya. Ibu, kakak dan nenek gembira bukan main yang pada saat itu sama-sama di rumah. Nenek langsung sujud syukur, disusul kami bertiga. Kemudian kami kabarkan bapak yang waktu itu belum pension, masih bekerja di bank. Juga kami kabarkan kepada saudara dan teman sekaligus berterima kasih atas dukungan kepada saya.

Setelah menjadi mahasiswa, syukur nilai akademik tergolong baik meski sempat menurun sewaktu semester 3 khususnya. IP terakhir 3.44 dengan 64 SKS yang telah diambil. Awal semester 1 mencapai IP 3.89 dan menjadi IP tertinggi selama ini. Rencananya Insya Allah saya ingin mengambil konsentrasi hukum tata Negara (HTN) karena sejak kecil saya tertarik membahas politik. Rencana kemudian ingin S2 di luar negeri dengan beasiswa, lalu menjadi dosen fakultas hukum UGM. Selama kuliah, syukur saya mendapat beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik bagi Mahasiswa Universitas Gadjah Mada sejak awal kuliah sampai sekarang. Kegiatan akademik saya selalu berusaha diiringi dengan kegiatan non-akademik yang mendukung dan menambah pengalaman di luar kelas.

Ketika ditanya hal manakah yang paling berkesan, saya jawab semua berkesan dan harus saya syukuri. Beberapa diantaranya saya menjadi delegasi mahasiswa fakultas hukum UGM dalam sebuah acara conference yang diselenggarakan Asian Law Students Association (ALSA) di Singapore dengan tema “Asian Integrity Establishment” dengan topic yang lebih spesifik di kelompok saya adalah intellectual property rights. Pertama kalinya menjadi delegasi sekaligus ke luar negeri tanpa ongkos setalah melalui seleksi, meski Bahasa Inggris kelepotan. Kemudian saya juga menjadi delegasi mahasiswa fakultas hukum UGM dalam acara Kongres Pancasila VI di Ambon pada 31 Mei-1 Juni mendatang, setelah abstrak lolos seleksi untuk membuat paper dan menjadi penyaji makalah, dengan dukungan dana dari fakultas dan universitas.

Selain itu, saya sempat menjadi figure tokoh lelakon di koran local Harian Jogja di Yogyakarta atas prestasi sewaktu SMA terutama setelah Juara 1 lomba kaligrafi aksara jawa di MAN Yogyakarta 1. Semasa kuliah pernah on-air di radio Swaragama bersama Mukhanif ketua UKM Peduli Difabel UGM dan Wiwit selaku ketua Humas UGM. Selanjutnya menjadi pembicara live di RBTV dalam acara I Love Yogyakarta, membahas tentang isu difabel dan perjalanan UKM Peduli Difabel. Pernah juga berorasi tentang diskriminasi difabel dalam SNMPTN 2014 pada Hardiknas 2014 di DPRD Yogyakarta. Semua itu dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap isu difabel bersama pihak-pihak yang peduli pula.

Pengalaman berorganisasi saya diawali sejak SMP terpilih menjadi Wakil Ketua II OSIS, namun keluar beberapa hari sebelum kepengurusan berakhir dan pelantikan baru karena kekisruhan politik sejak awal. Saat mahasiswa pertama kali berorganisasi menjadi staff at law development division ALSA Local Chapter UGM National Chapter Indonesia sejak awal masuk kuliah. Kemudian menjadi sekretaris Forum Mahasiswa Difabel dan Partner UGM (FMDP UGM) sejak April 2012, yangmana forum ini menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa Peduli Difabel UGM (Students Activity Unit Difabel Care – Gadjah Mada University yang disingkat SAUDC UGM) sejak 7 Juni 2013 dan kembali menjadi sekretaris dalam kepengurusan sampai sekarang.

Melalui kisah yang pernah saya alami sebagaiman yang saya ceritakan di atas, semakin membuat saya bersemangat untuk meraih prestasi, sebagai ungkapan rasa syukur. Melalui pengalaman ini pula, saya juga semakin bersemangat untuk menunjukkan bahwa difabel itu memang different ability, bukan tidak mampu. Khususnya saya yang Insya Allah jebolan hukum, saya juga bersemangat memperjuangkan hak difabel melalui hukum, mengingat perspektif difabel khususnya dalam sistem hukum belum terbangun dengan baik. Aamiin…

Karya: Muhammad Karim Amrullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *