viagra memes red viagra pills free viagra samples by mail 100mg viagra effects when did viagra come out how fast does viagra work

Cahaya di Balik Kegelapan

Oleh : Wahyu Setiawan

Seperti matahari yang senantiasa memberikan sinarnya untuk menerangi dunia seperti itu pula gambaran kobaran semangat yang ada dalam jiwa ini. Keringat yang mengucur adalah satu tanda harapan untuk menemukan suatu keindahan dibalik skenario terindah yang dirancangNya untukku.

Aku… aku… aku tak dapat melihat birunya lautan, hijaunya dedaunan dan warna-warni pelangi. Aku memang mempunyai kekurangan dalam penglihatan tapi aku masih mempunyai berjuta-juta mimpi yang hidup dalam hati dan perlahan ku nampakkan wujudnya. Meski disisiku tiada ibu dan ayah tapi dari sinilah aku belajar menantang kerasnya kehidupan.

Wahyu, nama penuh harapan dan doa terbaik dari ibu untuk putra pertamanya yaitu aku. Ibu meninggal saat aku berusia 4 tahun dan ayahku?!?! Entahlah!!! Entahlah!!! Entahlah!!! Pria itu pergi meninggalkan ibu saat mengandungku. Sudahlah..!!! Aku tak tahu keberadaannya. Jangankan tempat tinggalnya, namanya pun tak pernah ku dengar walau sekali.

Duniaku mulai gelap sejak berusia 11 tahun. Aku yakin Tuhan mempercayaiku menjadi aktor terbaik dalam drama yang dirancang khusus bagi diri ku. Ya.. aku adalah aktor terbaik untuk melawan terjalnya kehidupan dalam drama ini, ujarku dalam hati.

Fakta bahwa Aku tak dapat menikmati indahnya dunia dan sudah tak mempunyai orang tua kandung adalah kenyataan yang harus aku terima dengan besar hati. Aku tumbuh bersama seorang wanita yang cantik, hebat dan menyayangiku dengan sepenuh hati. Wanita itu tak lain adalah nenekku. Aku pindah dari desa kecil di pojok kota susu ke kota budaya, kota yang aku harap dapat merubah kehidupanku menjadi lebih baik. Dan disinilah aku berkembang dengan kepercayaan bahwa Allah selalu disampingku, menuntun setiap langkahku, meringankan beban hidupku, menjawab doa-doaku, dan memudahkan langkah hidupku.

Gemerlap bintang yang bertaburan di awan selalu menemaniku untuk terus melangkah kedepan, sinar rembulan yang menerangi hitamnya kehidupan, pelangi yang selalu mengajarkan keceriaan, merekalah motivatorku, merekalah kawan dalam hidupku, cahaya dalam gelapku, penerang dalam setiap langkahku.

Semenjak hijrah, aku tinggal bersama ibu dan bapak tiriku. Aku sadar, mereka memikul beratnya beban kehidupan sehingga aku kurang diperhatikan. Kurang perhatian tak menjadikanku pribadi yang pasrah, tak melangkah, atau bahkan menyerah.

Anggota badan yang dapat berfungsi, sejuta mimpi yang harus diwujudkan, wanita perkasa yang menunggu senyumku dibalik gubug sederhana di kota susu menjadi modal dan penyemangatku. Hadiah istimewa yang kuterima dari Gusti yaitu hilangnya nur dari tubuhku tak menjadikanku kehilangan rasa. Semua itu kuanggap cambuk untuk meraih masa depan. Seperti kata nenek “Satu mimpi tak akan terwujud jika hanya berpangku tangan dan menunggu datangnya keajaiban”, kata-kata itu yang selalu muncul setiap ku menapaki dunia ini bersama mentari yang kian memanas hingga bulan yang menggantikan sinarnya dan menemani ku ketika terlelap dengan selimut malam dan cahaya yang dipantulkannya, cahaya yang sekarang hanya bisa ku rasakan.

Bagiku, ini bukanlah ujian ataupun cobaan, tapi ini cara Allah untuk mengajarkan arti sebuah kehidupan. Ini bukanlah kodrat yang ditetapkan tapi jalan untuk menggapai masa depan, mengambil hikmah dari setiap peristiwa, dan menjadikannya sebagai pelajaran, hanya itu yang aku lakukan.

Pendidikan adalah langkah awal menyongsong masa depan. Sekolah bukan hanya buang-buang uang, berangkat tanpa tujuan, pulang tak tahu yang telah didapatkan. Sekolah  juga bukan tempat jalan-jalan, jajan hingga kenyang, banyak kawan, cerita sana-sini tanpa tujuan. Sekolah adalah tempat menggali ilmu sebagai bekal. Itulah sebabnya pendidikan sangat penting bagiku. Dengan pendidikan, aku berharap kehidupanku menjadi lebih indah dan bermakna.

Semasa kecil, aku yang tinggal di kota dengan icon terkenal sapi kala itu bekerja keras mencari, mengangkat dan memindahkan pasir demi beberapa lembar uang. Uang itu ku pergunakan untuk membeli peralatan sekolah yang terlampau mahal untuk satu-satunya wanita berharga bagiku, nenek. Nasi putih dengan sambal adalah menu sarapan sehari-hariku. Bukan karena itu santapan favoritku tapi begitulah adanya. Meskipun keadaanku “pas-pasan” atau bisa dibilang “kurang”, aku tetap semangat melangkahkan kaki mungilku ke sekolah. Aku menjadi penghuni setia jajaran lima besar tiap nilai semester dibagikan. Aku berhasil mengalahkan murid lain yang mempunyai kehidupan diatasku. Itu bukti bahwa apa yang kita pakai, apa yang kita makan sehari-hari tak menjadi masalah berarti.

Penglihatanku mulai kabur dan akhirnya tak dapat digunakan lagi. Dulu, Aku.. aku hanya anak bawang, aku terlampau kecil untuk menerima kehilangan fungsi kedua matanya. Itu berat bagiku… Betapa tidak?? Aku belum sempat menikmati dunia dengan mata ini. Aku belum tahu arah hidupku. Rasanya wajar sekali jika aku merasa “berbeda”. Aku bingung menentukan masa depanku. Rasa itu muncul hingga aku memutuskan untuk sejenak merenungi keberadaanku dan libur sekolah beberapa bulan hingga keadaanku membaik.

Hari demi hari berlalu, aku mulai menemukan setitik cahaya walaupun hanya dalam imajinasiku. Aku memilih untuk melanjutkan kehidupanku dengan bersekolah lagi. Masalah muncul, aku tak tahu sekolah mana yang mau menerima keadaanku. “Aku masih ingin menggapai mimpiku. Aku yakin pendidikanku tidak berakhir disini”, ku pegang kata-kata itu hingga sekarang. Jalanku dipermudah, ada seseorang yang menyarankanku untuk mengintip dunia melalui sekolah luar biasa atau SLB.

Apa itu sekolah luar biasa? Apa itu SLB? Istilah itu terdengar aneh dan awam bagiku. Imajinasiku mulai liar. Apakah itu sekolah untuk super hero? apakah itu sekolah untuk anak-anak dengan kekuatan super sehingga dinamakan sekolah luar biasa? Mungkin aku salah satu superhero junior yang dipersiapkan untuk membanggakan tanah khatulistiwa ini.. Ahhh… aku mulai menggila.. kubiarkan pikiran konyol itu tetap berputar di kepalaku.

Ternyata, disana aku diajari membaca dan menulis Braille bukan mengembalikan penglihatanku seperti pendapat keluarga tentang sekolah itu. Tidak masalah bagiku, aku masih bisa melihat isi dunia dengan ujung-ujung jari ku yang terlatih meraba totol-totol kecil yang tertata dan dipersiapkan khusus untuk kami, para tunanetra. Pertama kali aku mengenal huruf Braille di SLB, saking semangatnya, dalam waktu seminggu aku sudah dapat membaca dan menulis dengan reglet dan stilus, alat tulis ku.

Perjalanan dari rumah hingga sekolah yang tak mudah membuatku diminta tinggal diasrama. Berat rasanya meninggalkan nenek. Demi cita-cita yang tergantung kuat dilangit impianku, aku tinggal di asrama sekolah tetapi aku mulai tidak betah. Aku ingin tinggal dirumah tapi aku tak ingin menjauhkan diri dari impianku. Akhirnya aku nekat pulang kerumah dengan satu-satunya kendaraan umum yang melintasi desaku. Meski aku belum pernah naik bus sendirian, masa bodohlah, yang penting aku sampai rumah. Setelah kejadian itu, ketika matahari belum menampakkan sinarnya, nenek mengantarkanku ke sekolah dengan jalan kaki. Dan pulangnya aku naik bus sendirian. Semuanya tak berlangsung lama. Aku tak tega, aku pun berangkat sendiri.

Dua tahun sudah aku menghuni SLB. Aku merasa akademikku kurang berkembang karena yang ku dapatkan adalah 60% keterampilan dan sisanya akademik. Keterampilan yang kuperoleh dan paling ku kuasai adalah catur. Aku kurang puas, aku ingin setidaknya antara akademik dan keterampilan memiliki porsi yang sama.

Jalanku semakin terlihat, aku disarankan untuk pindah sekolah ke Solo, yang menggunakan kurikulum regular. Tapi salah satu petinggi sekolah tak mengijinkanku. “apa karena aku mengharumkan nama sekolah?”, kataku dalam hati. Bukan bermaksud tinggi hati tapi aku pernah menjadi juara pertama tingkat provinsi dan juara harapan I tingkat nasional dalam lomba catur. Ijazah SD ku sempat ditahan pihak sekolah. Ijazah dan raport diserahkan ketika kenaikan kelas VIII. Dengan modal nekat dan tanpa meminta ijin aku langsung pindah sekolah. Aku tak mau keinginanku tertunda lagi. Hatiku bergejolak, bukan karena jatuh cinta tapi aku harus meninggalkan ‘kekasihku’ yang berambut putih dibagian depan yang menunjukkan berapa usianya saat itu.

Di Solo, aku mencari donatur untuk membiayai sekolah dan asramaku. Alhamdulillah aku mendapatkan itu. Ada orang baik yang mau menolongku. Ternyata aku juga tak kalah dengan kawan-kawan. Bahkan aku dapat mengalahkan mereka. Setiap ulangan, yang aku kejar hanyalah nilai. Meski nilai itu belum dibagikan, aku selalu bertanya pada guru yang bersangkutan ke kentor. Bagiku nilai itu sangat berarti. Karena dari nilai itu juga aku dapat mengetahui seberapa kemampuanku. Bapak dan ibu guru disekolahku pun sampai terheran-heran dengan semangatku. Setelah tiga bulan aku bersekolah, aku mendapat tugas dari guru olahraga untuk mengikuti lomba lari tingkat nasional. Alhamdulillah aku dapat membawa pulang satu medali emas. Dan dari perlombaan itu aku mendapatkan bonus yang sangat membantu menapaki mimpiku.

Waktu berjalan dengan indahnya, dua tahun sudah aku menjadi siswa disini, aku akan menghadapi ujian nasional. Saat-saat paling melelahkan bagiku. Sejak pagi hingga siang hari aku harus bersekolah, sore aku latihan lari, malam aku harus mempersiapkan ujian nasionalku dengan belajar. Dag.dig.dug., begitulah kiranya jantung ini berdebar tapi dengan irama yang lebih kencang saat hasil ujian diumumkan. Speechless.!!! alangkah terkejutnya mengetahui bahwa nilai matematikaku tertinggi dan aku mendapat peringkat II di kelas.

Tabungan yang telah lama ku persiapkan untuk pendidikanku habis. Bukan aku gunakan untuk berfoya-foya tapi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluargaku. Waliku menjanjikan akan mengganti uang yang di gunakannya ketika aku masuk SMA, tapi…. naas, tiba saatnya uang itu aku perlukan uang itu tidak aku dapatkan. Aku kacau. Penyesalan muncul dari dalam diriku tapi, “ apa yang bisa aku perbuat? Aku tak bisa memperoleh uang sebesar itu dalam waktu singkat kecuali hutang. Ya.. hutang adalah satu-satunya jalan untuk mendapat uang secepatnya, tapi pada siapa aku berhutang? Apakah anak sekecil aku dipercaya dan diberi pinjaman uang yang tak sedikit itu?”. Pertanyaan-pertanyaan itu menggeliat dan harus ku cari jawabannya secepat mungkin. Aku tak kuat, aku cerita pada pelatih caturku dan beliau meminjami uang untuk biaya masuk sekolah.

Masalah biaya sekolah akhirnya terpecahkan, muncul masalah baru yang tak kalah membuatku bimbang. “Dengan siapa aku berangkat dan pulang sekolah nanti?”.  Kuperoleh jawaban setelah ku curahkan rasa hati ini pada Sang pembuat hidup. Seorang sahabat menawariku berangkat bersamanya meski rumahnya cukup jauh.

Beberapa bulan mengikuti pelajaran di salah satu sekolah inklusi di Solo, aku diikutkan dalam lomba lari tingkat nasional di Jakarta, bersamaan dengan itu ada pelatnas dan aku mengikuti Asian Youth Paragames di Malaysia dalam lomba catur. Aku lebih rajin latihan jika pagi hingga menjelang sore sekolah, sore hari aku menuju lapangan untuk melatih fisikku dan dilanjutkan latihan catur hingga hampir tengah malam sebelum aku mengikuti pelatnas. Satu bulan lebih aku absen dari sekolah, aku khawatir kalau ketinggalan pelajaran. Selama pelatnas aku masih berusaha belajar meskipun apa adanya, Latihan kerasku terbayar dengan medali emas yang ku bawa pulang dari Jakarta. Tanpa kepercayaan membawa pulang medali sama sekali dari negara yang terkenal dengan petronanya itu ternyata Allah menggiringku pada kemenangan. Di permainan individu, dalam 5 babak, aku kalah 1 kali dan mendapat medali perak. Di permainan beregu, aku mendapatkan medali emas.

Aku menyadari ketertinggalanku di sekolah dan kembali menjalani peranku sebagai siswa. Belum lepas penat ini, aku dipanggil pihak daerah untuk mengikuti lomba lari tingkat provinsi dan akhirya aku mendapat satu emas dan satu perunggu. Kakiku tak kuasa menopang badan ini, aku runtuh seketika. Itu adalah pengalaman berharga untuk anak desa sepertiku. Beberapa hari kemudian aku menghadapi ujian semester pertama. “It’s amazing”, kataku. Dengan aktivitas yang super padat dan rasa lelah yang begitu sulit hilang aku masih tetap sekolah, berlatih dan belajar, Aku pun bisa duduk di kursi kehormatan ‘top 10’ di kelas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *