Semangat Menuntut Ilmu dan Bekerja

Menjadi difabel bukanlah suatu pilihan, dan untuk menyempurnakannya ialah dengan belajar, berusaha, dan berkarya. Belajar melalui pendidikan setinggi-tingginya, berusaha sesuai dengan kemampuan, dan berkarya untuk kepentingan umum serta menafkahi diri sendiri. Itulah salah satu pandangan hidup yang saya tanamkan setidaknya untuk saya pribadi.

Nama saya Rahmat, tahun ini (2014) berusia 31 tahun. Saya menjadi seorang difabel sejak kelas 2 (dua) SD. Saya dilahirkan normal, namun ketika kelas dua SD mengalami kejadian yang akan mengubah jalan hidup saya hingga saat ini. Kala itu, setiap sore saya bermain dengan teman-teman sebaya. Beberapa waktu kemudian saya merasakan rasa lelah, lalu oleh ibu saya dibawa ke dukun pijat. Setelah mendapat pijatan beberapa hari kemudian saya merasakan kesulitan untuk berjalan. Lalu, kedua orang saya membawa saya ke rumah sakit untuk diperiksa. Dokter yang menangani mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan tubuh saya, baik itu kondisi saraf ataupun tulang.

Selama beberapa hari di rumah sakit saya belajar untuk berjalan dan kondisi semakin membaik serta saya dapat berjalan dan beraktivitas lagi. Dokter mengatakan bahwa saya sudah diperbolehkan untuk pulang. Pada hari H yang mana saya sudah diijinkan pulang, pada saat bangun di pagi hari saya merasakan kesakitan yang begitu luar biasa terutama pada kaki kiri. Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata sendi paha kaki kiri saya terlepas dari mangkoknya. Padahal malam hari saat tidur itu saya tidak terjatuh dari tempat tidur. Kemudian saya dirujuk ke rumah sakit yang berada di kota Magelang untuk menjalani operasi. Setelah operasi saya sudah bisa beraktivitas lagi, namun ada satu kesulitan, yaitu untuk berjongkok. Entah informasi dari mana, orang tua saya membawa saya ke terapi alternatif tulang yang ada di Solo, di tempat itu kaki kiri saya ditarik sampai bunyi “klok”. Saya menangis, namun setelah itu saya dapat melakukan gerakan jongkok.

Masa kanak-kanak saya selanjutnya ialah tetap bersekolah dan menjalani semua aktivitas anak-anak seperti umumnya termasuk bermain dan berolahraga. Pada saat kelas 6 saya pun mengikuti rangkaian ujian kelulusan yang salah satunya berlari jarak pendek 80 meter. Dengan kondisi itu saya dapat menempuh waktu 13 detik, hasil yang lumayan karena ada teman lain dengan catatan waktu yang sama. Selanjutnya, masa SMP juga berjalan seperti biasanya, namun sudah tampak ada perbedaan yang terjadi pada kaki kiri. Tinggi kaki kiri telah berbeda dengan kaki kanan. Kaki kiri lebih pendek, dan saat berjalan sudah terlihat pincang. Saat kelas 2 saya meminta rujukan ke dokter puskesmas agar dokter membuatkan saya ijin untuk bisa mendapatkan keringanan terutama pelajaran olahraga. Artinya, agar saya mendapatkan porsi olahraga yang lebih ringan daripada teman saya yang lain. Ketika kelas 3 SMP saya harus mengikuti ujian akhir sekolah yang salah satunya ialah praktek olahraga, dan yang terberat adalah olahraga lari. Bapak Kepala Sekolah waktu itu mengatakan semua murid harus mengikuti ujian praktek termasuk praktek berlari kira-kira 3-4 kilometer. Pada saat itu, saya merasa cemas karena saya tidak mampu berlari dengan jarak yang begitu jauh namun di sisi yang lain saya begitu takut kalau tidak lulus.

Akhirnya sampai juga pada ujian itu. Ujian yang sungguh menegangkan bagi saya. Tetapi saya harus ikut berlari, namun guru olahraga mengatakan saya untuk berlari pelan-pelan saja. Praktek itu saya lalui dengan penuh perjuangan, saya berlari namun juga saya selingi dengan berjalan pelan-pelan begitu seterusnya. Di tengah perjalanan, saya melihat teman-teman saya yang lain, beberapa mereka yang “normal” justru berlari tidak sesuai rute yang ditentukan, ada yang mencari jalan pintas yang dekat dengan sekolah agar cepat sampai. Namun dalam hati, saya tidak akan melakukannya, bagaimana pun saya harus bisa mencapai garis finish di sekolah melalui rute yang telah ditentukan. Pada saat itu, ada tiga teman saya laki-laki yang ikut berjalan bersama saya. Kami adalah empat orang murid laki-laki yang ada di urutan belakang, semua teman laki-laki lainnya sepertinya sudah sampai di sekolah. Kami nikmati ujian itu dengan berjalan dan sesekali berlari kecil. Pada saat hampir sampai di sekolah dan memasuki garis finish kami berlari semampu kami, saat itu saya memasuki garis finish di urutan keempat dari belakang untuk murid laki-laki.

Pada masa SMA saya selalu bersemangat untuk belajar, karena pada saat itu saya sudah resah dengan kondisi fisik. Kira-kira di masa depan akan bekerja apa. Bekerja di bidang yang memerlukan stamina dan fisik yang bagus sudah tidak mungkin. Oleh sebab itu, saya selalu bersemangat untuk belajar agar bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dengan harapan dapat bekerja di tempat yang tidak mengandalkan kekuatan fisik semata. Guru olahraga SMA itu sangat baik terhadap saya, dia seorang guru perempuan. Setiap olahraga saya diberi keringanan, misalnya teman-teman saya harus berlari mengelilingi lapangan sepakbola 5 kali, maka saya diberi kesempatan hanya mengelilingi lapangan sepakbola sebanyak 2 atau 3 kali.

 

Pada saat kelas tiga SMA saya semakin merasakan sakit pada bagian sendi paha kaki kiri dan merasakan sakit setiap kali jongkok. Orang tua kemudian membawa saya ke rumah sakit, akhirnya saya dioperasi dan dirawat di rumah sakit khusus tulang di kota Surakarta. Saat itu pihak sekolah memberi kemudahan dengan mengirimkan materi dan soal-soal ke rumah sakit untuk saya pelajari dan kerjakan. Perawatan dan terapi yang harus saya lalui itu memerlukan proses yang tidak singkat. Dan tanpa ada petunjuk dari siapa pun saya memutuskan untuk cuti sekolah dan saya yang menulis sendiri surat cuti itu dan bersedia bersekolah lagi kalau sudah benar-benar mampu dan siap. Jadi, kalau dihitung masa SMA saya ialah 4 tahun karena yang satu tahun itu saya harus menjalani perawatan dan terapi di rumah sakit. Bagi saya lulus terlambat satu tahun itu tidak masalah, yang penting saya bisa lulus dengan nilai yang memuaskan dan juga dengan perjuangan saya sendiri untuk masuk sekolah. Pada saat menanti kelulusan, orangtua saya menyarankan saya untuk kuliah. Alasannya ialah dengan bersekolah setinggi-tingginya diharapkan saya bisa mendapatkan pekerjaan yang tidak mengandalkan kekuatan fisik.

Akhirnya, saya menempuh kuliah di jurusan Sastra. Setelah lulus, saya bekerja menjadi seorang guru honorer di sebuah sekolah negeri pada tahun 2006 dengan gaji pertama sebesar Rp. 48.000. Saya berpikir seperti inikah potret guru di Indonesia sesungguhnya? Otak saya terus berpikir, saya tidak boleh selamanya berada di tempat kerja dengan penghasilan yang sangat minim. Pada tahun 2007 saya nekat melanjutkan studi S2, itu pun dengan biaya pribadi. Ayah saya meninggal saat saya hampir lulus S1, dan ibu saya sangat merestui kuliah lanjut saya tetapi beliau tidak sanggup utuk membiayai kuliah S2 saya. Pada saat itu, saya meminta bantuan saudara saya yang bekerja di Korea dan kakak angkat saya untuk membantu saya melengkapi pembayaran SPP S2 yang pada saat itu sebesar 4 juta tiap semester. Saya sangat bersemangat mengumpulkan uang demi kuliah S2, ketika itu saya juga kerja sambilan, yaitu memberikan les dan bekerja membantu penelitian seorang mahasiswa S2. Pernah selama dua minggu saya bekerja keras. Pagi hari saya mengajar, siang hari saya kuliah, sore hari sampai jam 9 malam saya memberikan les, dan mulai jam 10 malam sampai subuh saya mengerjakan proyek dari seorang mahasiswa S2 di sebuah rental komputer. Semua itu saya lakukan demi pendidikan yang tinggi dan masa depan saya. Akhirnya, saya bisa menyelesaikan studi S2 pada tahun 2009 meski dengan beberapa rintangan. Bagaimanapun saya mensyukurinya.

 

Kehidupan sebagai seorang difabel apabila dirasakan memang begitu luar biasa. Sejak tahun 2012 saya memutuskan untuk mengenakan tongkat penyangga, atau istilahnya bahasa Jawanya yaitu teken, untuk aktivitas saya di luar rumah. Sebuah pengalaman yang membuat saya memang harus dapat survive di masyarakat salah satunya ialah saat berada di transportasi umum. Pernah suatu kali di sore hari saya turun dari kereta api di salah satu stasiun. Setelah turun saya memilih jalan yang di situ terterta jalan keluar khusus untuk difabel dan orang lanjut usia. Namun, pintu itu tertutup. Pada saat itu, saya berjalan dengan tongkat penyangga. Beberapa pegawai stasiun kereta api yang lewat meneriaki saya untuk tidak keluar lewat pintu khusus difabel itu. Sementara itu, rute jalan untuk orang normal itu harus melewati terowongan dan memutar lebih jauh. Saya hanya mengacungkan tongkat saja. Lalu saya coba untuk mengetuk pintu keluar khusus difabel itu dan berbicara meminta tolong agar petugas yang ada di sebalik pintu membukakan pintu. Betapa kaget hati saya saat itu, saat petugas jaga membuka sedikit pintu lalu mengatakan bahwa pintu itu khusus untuk orang cacat dan orang lanjut usia. Saya meminta untuk keluar dari pintu itu, tetapi apa jawab petugas jaga pintu itu? Beliau berkata, “Mana cacatmu, tunjukkan!”, padahal saya sudah membawa tongkat penyangga. Lalu saya jawab, “Apakah orang cacat tidak boleh keluar lewat pintu difabel ini?”. Kemudian petugas membuka pintu dan memohon maaf kalau beliau merasa tidak tahu kalau saya difabel. Pikir saya, mana mungkin ada orang normal, masih muda mau membohongi diri berpura-pura menjadi seorang difabel hanya untuk lewat jalan dengan rute yang lebih pendek? Rasanya pada saat itu sungguh campur aduk, namun saya segera berdoa semoga di akhirat nanti saya bisa berjumpa dengan petugas kereta api penjaga pintu keluar itu di pintu surga.

Tempat kerja saya saat ini dengan bangunan bertingkat, kadang saya harus berada di lantai dua atau tiga. Namun demikian, di ruang mana pun di lantai berapapun harus tetap saya jalani. Saya tetap merasa senang dan tidak ada beban ketika harus naik turun tangga untuk belajar bersama teman-teman mahasiswa. Yang mana sejak tahun 2013 saya menjadi dosen di program studi Pendidikan Bahasa Jawa, FKIP, UNS.

 

Oleh  : Rahmat, S.S., M.A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *