Tak Akan Menyerah

Saya hanyalah anak yang berasal dari keluarga sederhana. Orang tua saya bercerai ketika saya masih kecil. Saya tumbuh sebagai anak yang aktif, lincah dan ceria pada waktu itu. Namun selanjutnya saya mengalami babak baru dalam hidup saya. Keceriaan masa kecil saya terusik dengan kejadian yang mengubah hidup saya 180 derajat. Pada umur sepuluh tahun tepatnya kelas V SD, saya terkena penyakit GBS (Guaillian Barre Syndrom) yang menyebabkan saya mengalami kelumpuhan saraf motorik. Pada waktu itu, penyakit ini masih tergolong penyakit langka sehingga cukup sulit dideteksi dan penanganannya pun belum maksimal.

GBS (Guaillian Barre Syndrom) bisa juga disebut radang polineuropati demyelinasi akut (acute inflammatory demyelinating polyneurophaty/AIDP)  dijelaskan sebagai peradangan akut yang menyebabkan rusaknya sel saraf, yang belum dapat dijelaskan secara pasti apa penyebabnya. Ketika tubuh terinfeksi penyakit, virus atau bakteri lazimnya tubuh menghasilkan antibodi untuk melawan antigen. Pada kasus GBS antibodi justru menjadi jahat dan menyerang system saraf tepi. Selaput myelin yang menyelubungi sel saraf dihancurkan (demyelinasi) sehingga sel sarafnya rusak. Kerusakan ini menyebabkan kelumpuhan motorik dan menimbulkan gangguan sensibilitas pada penderita, pada tingkat yang lebih parah juga mengganggu sistem pernapasan bahkan kematian.

Pada saat kondisi terparah sekitar beberapa bulan, saya mengalami kelumpuhan motorik, kesadaran yang tidak stabil, gangguan pencernaan, dan sempat mengalami gangguan pernapasan tapi masih dalam tingkat ringan. Setelah perkembangan virus penyakit ini berhenti, barulah kesadaran saya sudah mulai stabil. Atas rujukan dokter, saya dianjurkan agar melakukan fisioterapi untuk mengembalikan fungsi saraf dan kekuatan otot saya yang sudah terlanjur melemah karena efek penyakit GBS.

Hari-hari berikutnya selain melakukan pengobatan dari rumah sakit seperti fisioterapi, keluarga juga membawa saya berobat ke berbagai pengobatan alternatif lain seperti pengobatan China (shinshe), pengobatan tradisional (urut), pengobatan herbal dan lain-lain. Namun karena keterbatasan ekonomi keluarga yang sudah banyak terkuras akibat biaya pengobatan saya, pada akhirnya intensitas pengobatannya pun berkurang lalu terhenti. Selanjutnya saya hanya bisa melakukan fisioterapi secara mandiri dengan bantuan keluarga saya.

Tidak mudah melewati masa itu. Transisi dari anak yang aktif, lincah dan ceria menjadi anak yang tidak bisa berbuat apa-apa, itu membuat saya berubah. Apalagi saya harus melewatinya dengan kondisi tanpa orangtua yang utuh disamping saya.  Saya menjadi anak yang minder, tertutup, pemalu, merasa rendah diri dan sulit percaya pada orang lain. Tapi seiring dengan berjalannya waktu saya kembali bangkit. Sekarang, efek dari penyakit ini belum pulih sepenuhnya. Saya masih mengalami kesulitan dalam berjalan dan melakukan berbagai aktivitas fisik lainnya. Saya mencoba untuk tetap bersyukur dan ikhlas menjalani perjalanan hidup saya. Tapi saya tak  pernah menyerah untuk terus  berjuang menggapai segala cita-cita, karena saya tahu sesulit apapun keadaan kita, jalan menuju kehidupan yang lebih baik akan selalu ada.

Sepanjang perjalanan hidup saya, khususnya semenjak saya terkena penyakit GBS, banyak pelajaran hidup berharga yang saya dapatkan. Mungkin pelajaran-pelajaran tersebut tidak akan saya dapatkan apabila saya tumbuh dengan kondisi yang sehat-sehat saja. Saya tahu bagaimana rasanya dikucilkan, dikasihani dan diremehkan karena kelemahan fisik saya. Saya sering merasa minder, sedih, kecewa, takut dan hampir putus  asa sehingga terkadang saya mengatakan bahwa Tuhan tidak adil. Saya tahu hal tersebut adalah situasi yang wajar. Tapi sekali lagi, saya tidak pernah benar-benar menyerah. Saya tetap bertahan mencoba mengatasi segala kelemahan saya, lalu melanjutkan perjalanan menuju cita-cita saya. Begitulah seharusnya, kita harus memandang segala kejadian buruk, menyakitkan atau mengecewakan adalah sebagai ujian yang membuat kita dapat belajar, mengambil hikmahnya dan membuat kita semakin kuat. Ibarat sebuah pohon yang akan terbukti kuat apabila tetap berdidri tegak sekalipun angin badai menghantam, begitulah juga manusia yang harus  diterpa badai cobaan untuk menguji seberapa besar kekuatannya untuk bertahan.

Sampai kelas IV SD saya masih melakukan aktivitas sekolah seperti pada umumnya dengan kondisi yang masih sehat. Namun sejak kelas V SD setelah terserang penyakit GBS, saya hanya bisa melakukan aktivitas belajar di rumah dengan buku-buku pelajaran yang diberikan pihak sekolah. Kecuali pada saat ujian kelulusan kelas VI SD, saya tetap mengikutinya. Walaupun hasil ujiannya tidak cukup memuaskan menurut saya, tapi saya tetap bersyukur telah berhasil melewatinya dan lulus. Setelah tamat SD Saya sempat tidak sekolah selama setahun karena masih tidak mungkin bagi saya mengikuti kegiatan penuh di sekolah. Di tahun berikutnya saya dan keluarga memutuskan saya melanjutkan SMP  regular SMP Swasta Tri Dharma. Sampai seterusnya memasuki SMA regular di SMAN 1 Sunggal dan masuk perguruan tinggi. Sejak SMP pula lah saya tidak lagi belajar di rumah, tapi di sekolah.

Banyak tantangan yang dihadapi dalam dunia pendidikan saya. Saya harus melawan rasa minder saya, mencoba menegakkan kepala saya dan menunjukkan siapa diri di hadapan dunia. Tangan saya yang menjadi lemah dan juga jari-jari saya yang menjadi sulit untuk digerakkan, membuat saya lambat dalam kegiatan di sekolah khususnya seperti kegiatan menulis. Untuk mengatasi hal tersebut, saya pun sering meminjam catatan teman. Saya mengalami kesulitan dalam berjalan, saya hanya bisa berjalan beberapa langkah tanpa bantuan, namun karena tangan saya yang juga lemah, saya tidak bisa menggunakan alat bantu berjalan seperti tongkat. Syukurlah, saya dikelilingi oleh orang-orang baik yaitu teman-teman dan keluarga yang siap membantu apabila saya memerlukan bantuan untuk berjalan. Apalagi setelah kuliah, dimana kampus saya adalah gedung dengan tiga tingkat, tantangannya juga jadi lebih berat karena memang seringkali saya merasa mudah lelah dengan naik turun tangga. Saya biasanya tak banyak bergerak di sekolah ataupun di kampus karena memang pergerakan saya terbatas dan karena pada dasarnya saya juga mudah lelah apabila terlalu banyak kegiatan. Terlepas dari semua keterbatasan dan kesulitan-kesulitan ini, saya tidak pernah menjadikan ini alasan untuk menghentikan langkah saya mengenyam peendidikan. Karena bagi saya, dunia pendidikan memberikan suntikan semangat lebih untuk saya. Dari dunia pendidikan saya bisa lebih mengenal dunia, sebagai media untuk terus mengembangkan potensi saya dan sebagai tempat berinteraksi dengan orang lain.

Saya sangat bersyukur dengan status saya sekarang sebagai mahasiswa Universitas Sumatera Utara di jurusan Psikologi. Sejak SMP saya memang sudah punya minat yang besar dengan psikologi. Awal ketertarikan saya didasari karena melihat masa kecil saya yang seharusnya bisa ”lebih bahagia” dari itu, sehingga saya merasa terpanggil untuk berperan serta menjadikan anak-anak lain agar memiliki kehidupan yang lebih baik. Saya pernah bercita-cita ingin membuat buku untuk para orangtua agar mampu berperan sebagai orangtua yang bijaksana dalam membesarkan, menyanyangi, membimbing, mendidik, dan melindungi anaknya.

Namun seiring dengan pengalaman hidup yang saya lewati, motivasi saya terhadap bidang psikologi semakin berkembang. Saya kemudian juga bercita-cita untuk lebih memahami jiwa orang lain khususnya orang-orang berkebutuhan berkebutuhan khusus seperti saya agar mampu mengembangkan potensinya secara maksimal dan menjalani perannya di dunia ini sebagai manusia yang seutuhnya. Saya ingin membantu mengarahkan serta memotivasi  mereka agar mampu memperjuangkan hak dalam meraih cita-citanya sesuai dengan bakat dan potensi yang mereka punya. Karena seperti yang kita ketahui di Indonesia, kepedulian dan hak kaum berkebutuhan khusus masih minim. Saya sungguh ingin mengubah paradigma yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia pada umumnya mengenai kaum berkebutuhan khusus, yang mungkin buat sebagian orang berpikir bahwa kaum berkebutuhan khusus hanya menyusahkan, dikasihani dan dipandang sebelah mata. Saya ingin menunjukan bahwa kaum berkebutuhan khusus juga mampu berprestasi asalkan mereka diberi kesempatan untuk berkembang.

Terinspirasi dari perjalanan hidup saya sendiri, mata hati saya dapat benar-benar melihat apa yang juga dirasakan oleh orang-orang yang mempunyai kelemahan atau keterbatasan fisik seperti saya. Namun miris sekali rasanya melihat banyak dari  mereka yang justru memilih hidup dijalanan sebagai tuna wisma. Saya ingin melihat mereka hidup dengan cara yang layak bukan hanya mengandalkan belaskasihan dari orang lain. Saya ingin melihat mereka menggali kemampuan dan potensi yang ada dalam dirinya sehingga mampu bersaing dengan orang-orang yang kondisi fisiknya lebih sempurna. Oleh karena itu lah saya berharap dengan kuliah di jurusan psikologi yang saya jalani sekarang, saya akan bisa lebih memahami aspek-aspek apa saja yang harus diperhatikan dan dibenahi untuk membantu orang-orang berkebutuhan khusus.

Saya tahu akan ada orang-orang yang meragukan saya untuk kuliah di jurusan Psikologi. Namun kata hati saya selalu mengingatkan, tidak begitu penting bagaimana dunia dan orang lain melihat saya karena hal yang lebih penting adalah bagaimana Tuhan melihat saya dan bagaimana saya melihat diri saya sendiri. Saya selalu yakin siapapun kita dan bagaimanapun keadaan kita, Tuhan menciptakan kita bukan untuk kehidupan yang tak ada artinya, kita semua mempunyai peran dalam memberikan kontribusi positif melalui keberadaan kita di dunia ini.

Begitulah adanya setiap orang pasti punya tantangan hidupnya masing-masing. Begitu juga dengan saya yang punya tantangan tersendiri dengan segala keterbatasan fisik yang saya alami. Namun saya menerapkan prinsip selama saya masih punya waktu dan kesempatan untuk terus berusaha dan berjuang, maka saya juga tidak akan menyerah. Dengan segenap kekuatan yang Tuhan berikan, saya yakin Tuhan akan memampukan saya menghadapi segala tantangan tersebut.

 

Oleh : Sinta Milastry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *