Pandang Duniaku Meski Tak Kudengar Celotehmu

Alya Sausan mengulangi kalimatnya sambil memegangi perutnya, seperti menirukan ibu hamil. Hmmm, ada-ada saja Alya Sausan ini. Masak dia berkata aku hamil? Kujawab, “Bukan ibu yang hamil.” jawabku sambil geleng kepala.
“Ami uua ulan,” mulut mungil dan matanya seakan terus memaksaku untuk mendengarkan dan mempercayainya.
Dua bulan? Tersenyum aku mendengarnya. Kujawab, “Alya Sausan doakan ibu ya, biar cepat hamil”. Eh, ia malah cemberut. Aku tidak mau menerima informasinya, mungkin begitu pikirnya. Atau apalah, yang jelas aku tidak paham maksudnya. Alya Sausan muridku kelas 2 SD Al Firdaus.
Memang 10 tahun sudah saya dan suami belum dikaruniai anak. Hingga di titik nol, tinggal berharap dan berdoa agar bisa hamil dan menjadi seorang ibu. Membayangkan ada yang memanggil bunda. Berbagai pengobatan medis dan terapi kemana-mana, belum juga membuahkan hasil. Dari 3 dokter spesialis hingga alternatif sudah pernah kami jelajahi. Siklus haid yang sangat panjang dan tidak teratur, serta mengalami policistik ovarium (jumlah sel telur yang terlalu banyak menimbulkan ovum sulit menjadi besar/matang). Dua kali program inseminasi pun gagal.
Dulu, ikhtiar dengan suami pernah sampai nekat ke Jakarta ala backpacker dari satu armada ke armada lain, pas-pasan, supaya bisa mendapatkan pengobatan timur tengah yang konon saat menonton tayangan di televisi, banyak yang berhasil. Lagi-lagi belum membuahkan hasil. Jadi intinya, apa yang dikatakan Alya Sausan muridku tadi, belum dapat aku percayai.
Malam hari, kenapa ya kata-kata Alya Sausan terngiang terus di telingaku. Anak kecil 8 tahun itu, tidak hanya berkata dengan bibirnya, tetapi sorot mata dan gerak tubuhnya juga. Dan sepertinya aku sudah membuatnya kecewa karena tidak mau mempercayainya. Kulihat dilemari masih ada stok alat tes kehamilan, alat yang kerap membuat hati ini kecewa, karena selalu negatif. Ya sudahlah tidak ada salahnya, besok aku tes lagi pikirku.
Subhanallah. Benar. Suamiku berkaca-kaca sewaktu kutunjukkan positif. Pada saat kami tidak sedang program kehamilan, seperti yang sudah-sudah. Setelah cek ulang ke laboratorium dan periksa, kata dr. Laqif, SpOG, seorang dokter spesialis infertilitas di Kota Solo, bahwa usia kehamilanku bahkan sudah masuk usia 11 minggu. Betapa bahagianya keluarga kami mendengar kabar ini.Alhamdulillah benar apa yang Alya Sausan katakan dua minggu lalu. Menyesal aku tidak mempercayainya. Setelah itu langsung aku menemuinya, dan mengatakan maaf dan terima kasih sudah memberitahukan.
Namun bagaimana dia tahu? Hingga sekarang belum terjawab rasa penasaranku. Sementara teman-teman kerjaku, tidak ada yang menyangka. Ayah ibuku juga demikian, tidak menduga. Hadiah yang datang tiba-tiba. Dan semuanya memang sudah rencana indah dari Alloh ar rohman. Alhamdulillah, kemudian lahirlah Nafis Ali anak pertamaku, 19 Juli 2012.
**
Lincah sekali gerak tubuhnya. Caranya memandang, tersenyum dan tertawa, sekilas tampak biasa-biasa saja. tidak ada yang aneh. Yang membedakan hanyalah saat ia berbicara dan merespon lawan bicaranya. Ya, Alya Sausan Rahmadina, lahir tahun 2003. Siswa kelas 4 SD Al Firdaus Surakarta, mengalami gangguan pendengaran tingkat berat, antara 105-109 desible. Meskipun tidak dengan implant, namun Alya Sausan mampu mengikuti materi di sekolah dengan dibantu guru pendamping khusus. Soal materi yang disampaikan di kelas, disederhanakan menjadi kata-kata yang lebih pendek agar lebih mudah dicerna.

Mengenal sosok Alya Sausan, mengenal hidupnya yang sarat perjuangan. Bisa seperti sekarang perjalanannya tidaklah mudah. Di SD, awal mengenal ulangan harian, ulangan tengah semester dan ulangan akhir sekolah. Semua itu dilaluinya dengan susah payah. Tentu bukan hanya Alya, ada tangan kokoh dan teguh dibelakangnya. Orangtua yang tak henti-hentinya berupaya putri sulungnya ini dapat mengikuti pelajaran di sekolah. Saat itu gangguan pendengaran (tuna rungu wicara) adalah kasus pertama sekolahku.
Teringat waktu awal masuk kelas 1, di hari pertama, Alya Sausan menangis ketakutan saat masuk kelasku. Ketika itu spontan aku teringat sebuah novel karya Torey Hayden. Ya, satu tahun ini, kami akan menjadi keluarga kelas 1A. Kalimat pertama yang kuucap kala itu, “Alya, us Rakhma mau jadi sahabatmu. Boleh?” tanyaku dengan suara dan gerak tanganku. Beberapa detik, tangisnya terhenti. Dia memandangku. Namun kembali ia menangis. Dan pada akhirnya Alya Sausan mau mengikuti upacara di halaman sekolah, sambil sesekali melihat kebelakang, khawatir bapak dan ibunya pergi.
Di kelas inklusifku terdapat 1 anak tuna rungu, 1 anak disleksia, 2 anak lamban belajar. Belum lagi menghadapi anak-anak yang merasa superior, dan kebalikannya, mensupport anak-anak introvert. Bukan hal yang mudah ternyata mengajarkan empati kepada anak-anak lain. Bukan hal yang ringan pula, menguatkan Alya Sausan agar selalu kuat dan riang mau datang ke sekolah. Butuh waktu yang agak lama. Tri wulan pertama benar-benar serasa ujian pendadaran. Anak-anak baru saling mengenal, mengenalkan dan membiasakan role and play di awal tahun ajaran seperti memang berat. Tetapi kuyakin, ke belakang akan lebih mudah dan tertata disiplin mereka. Termasuk membangun empati dan simpati mereka terhadap teman-teman berkebutuhan khusus.
Berebut teman, salah paham, keliru arti yang dimaksud, saling ejek, minta jajanan teman dengan merebut, dan semuanya itu perlu waktu untuk memahamkan yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Jika tidak boleh, mengapa? Lalu bagaimana seharusnya? dan seterusnya. Sebagai guru di kelas inklusif, metode dan media ajar, bisa tiba-tiba harus diganti, keluar dari rencana pembelajaran, demi menyelamatkan kelas agar bisa kondusif.
**
Suatu hari ia membawa sebuah gulungan kertas, setelah kubuka ternyata sebuah lukisan yang sangat indah, gradasinya dan coretannya sangat kuat berkarakter. Ketika kutunjukkan di depan kelas, spontan anak-anak berseru ‘wow’. Luar biasa. Inilah kunci awal Alya Sausan dapat ‘diterima baik’ oleh teman-temannya di kelas 1 SD dulu. Hingga sekarang semua teman-teman kagum kepadanya.
Berbagai lomba mewarnai, menggambar, drum band, lomba gambar dengan komputer, kerap menjadi juara. Hingga terakhir dua kali finalis lomba pantomim tingkat propinsi Jawa Tengah. Prestasi demi prestasi mampu diukirnya. Kinestetiknya sangat bagus, lentur dan lincah. Sejak kecil ikut kursus tari di Mangkunegaran, tentu irama gending tidak dapat ia ikuti. Namun liuk gerak guru tarinya, mampu ia tangkap dan tirukan. Inilah bagian tersulit, karena musik harus mengikuti gerakan Alya, bukan Alya yang mengikuti musiknya.
Di kelas, kalau belum dijemput, biasanya ia akan mengajak Nisa dan Sofiana menari dan berputar. Tertawa bersama. Senang melihat mereka. Lama-lama Luthfiana, Faren dan Sofie Inoe ingin bergabung. Jadilah kelasku menjadi sanggar tari dadakan. Guru tarinya? Ya Alya Sausan.
Perjuangan Alya tak akan lepas dari kegigihan orangtua, Bapak Sudinadji dan Ibu Yenny Susetyo. Polesan tangan kreatifnya, kesabaran mencari tempat-tempat terapi dan berbagai les bakat, mengantarkan Alya Sausan menjadi anak yang kuat percaya diri dan berprestasi. Alya Sausan berbeda dengan anak yang lain. Bukan karena keterbatasan indera, tapi ketajaman inderalah yang menjadi kelebihannya. Bahkan tidak mudah mengasah bakat untuk anak-anak yang bahkan memiliki indera yang lengkap.
Waktu begitu cepat berlalu. Sekarang Alya sudah tumbuh menjadi gadis periang. Sebentar lagi kelas 6 dan lulus dari sekolah ini. Aku akan selalu mengingatmu, nak.. Tumbuhlah dan raih kegembiraanmu. Berbanggalah memiliki orangtua yang percaya diri, gigih dan pantang menyerah. Bapak ibu dan adik yang cintanya luar biasa, untuk Alya Sausan, anak yang luar biasa.
#

Kisah nyata ini ditulis oleh:
Dwi Rakhmawati
Guru SD Al Firdaus, Surakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *